(Taiwan, ROC) --- Toko buku Asia Tenggara Briliant Time (燦爛時光), yang berlokasi di Zhonghe, New Taipei City, terus mempertahankan model“hanya pinjamkan, jangan jual” selama 10 tahun terakhir, menjadi jendela menuju jiwa komunitas imigran baru dan pekerja migran Asia Tenggara di Taiwan. Pendiri toko buku Chang Cheng 張正mengatakan bahwa setelah bertahun-tahun berkampanye, buku-buku Asia Tenggara kini tersedia di perpustakaan-perpustakaan besar di Taiwan. Toko Buku Briliant Time telah menyelesaikan misinya dan akan tutup pada bulan April, hanya tetap beroperasi di lobi Stasiun Kereta Api Taipei setiap Minggu sore, terus meminjamkan buku kepada pekerja migran secara gratis.
Meski toko buku kecil, tetapi telah menjalin koneksi dan melahirkan banyak kisah inspiratif. Seorang perawat Indonesia yang bekerja di Taiwan, setelah kembali ke kampung halamannya, membuka toko buku karena tergerak oleh misi dari Toko Buku Briliant Time ini. Istimewanya, toko buku ini terletak tepat di ruang tamunya, menjadi tempat membaca dan belajar bagi anak-anak setempat.
Pasangan Chang Chen dan Liao Yun-chan (廖雲章) adalah pionir yang tertarik dengan isu-isu Asia Tenggara di Taiwan. Mereka membuka toko buku dengan berharap dapat menciptakan ruang yang membantu pekerja imigran Asia Tenggara menemukan kenyamanan dan kebebasan dengan budaya asal mereka di negeri asing. Seorang perawat Indonesia pernah berkata, “Membaca buku membuat saya merasa bebas.” Pernyataan ini menyentuh hati Chang Chen serta membuatnya semakin bertekad untuk terus mengelola toko buku ini.
Liao Yun-chan menyampaikan bahwa interior dan desain toko buku dipenuhi dengan unsur budaya Asia Tenggara. Lukisan di dinding menggambarkan festival Songkran (Festival penting di Thailand), karena toko buku ini pertama dibuka pada saat perayaan ini. Gambar gajah yang menyemprotkan air membentuk bendera nasional negara-negara Asia Tenggara, melambangkan perayaan budaya Asia Tenggara di toko buku tersebut. Lantai dua terdapat ruang untuk ceramah, sekitar 300 sesi diadakan setiap tahunnya, termasuk topik budaya Asia Tenggara, pembelajaran bahasa, bahkan topik Mesir kuno.
Leo, yang pernah bekerja di Toko Buku Briliant Time, menceritakan bahwa penutupan toko buku mungkin menandai berakhirnya sebuah ruang, tetapi seperti suar yang ditembakkan ke langit, api pertukaran budaya yang dinyalakan oleh Briliant Time akan terus berkobar.