(Taiwan, ROC) —- Kasus perundungan fatal terjadi di Tainan. Seorang siswa SMP berusia 13 tahun mengalami kejang di rumahnya pada Kamis kemarin (27/2) dan meninggal dunia setelah mendapat pertolongan medis.
Ibu korban kemudian membuat postingan yang mengungkapkan bahwa anaknya diduga menjadi korban perundungan (bully) dan dipaksa meminum cairan narkoba di sekolah.
Setelah berita ini tersebar, langsung memicu perhatian publik. Kepolisian Tainan menyatakan akan melakukan otopsi minggu depan dan telah melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Distrik Tainan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Seorang warga mengunggah postingan di Facebook pada Kamis dini hari (27/2), menyatakan bahwa putranya meninggal pada pukul 8:27 pagi dengan penyebab yang tidak diketahui.
Namun, setelah pemeriksaan darah oleh dokter, ditemukan adanya reaksi keracunan zat berbahaya dalam tubuhnya. Saat ini sedang dilakukan proses otopsi sesuai prosedur hukum.
Orangtua juga melampirkan surat diagnosis anaknya dalam postingan tersebut. Dokter mendiagnosis bahwa sang anak mengalami kejang dan henti jantung dengan penyebab yang tidak diketahui, serta diduga mengalami meningitis atau keracunan zat berbahaya.
Setelah sempat dibawa ke UGD untuk penanganan darurat, sayangnya anak tersebut meninggal dunia di UGD.
Lebih mengejutkan lagi, orangtua tersebut mengungkapkan bahwa ada siswa lain yang bersaksi bahwa putranya telah lama mengalami perundungan di sekolah dan bahkan dipaksa meminum cairan obat terlarang berbentuk bubuk kopi di toilet.
"Tujuan saya memposting ini adalah untuk memberi tahu semua orang betapa mengerikannya masyarakat kita sekarang, sampai memaksa minum racun. Saya berharap semua orang lebih memperhatikan kondisi anak-anak mereka di sekolah," tulis orang tua korban
Setelah terungkap ke publik, unggahan tersebut langsung memicu perhatian netizen.
Banyak yang marah mengecam bahwa tindakan perundungan tersebut sama dengan pembunuhan.
"Para pelaku perundungan ini tidak boleh ada yang lolos! Bubuk kopi itu sudah keterlaluan," tulis salah seorang netizen.
Terkait hal ini, Divisi Kepolisian Baihe Tainan menyatakan telah menerima laporan dari orangtua korban pada Kamis kemarin (24/2), dan saat ini telah mengatur pemeriksaan jenazah serta melaporkan ke Kejaksaan Tainan untuk penyelidikan.
Kejaksaan Distrik Tainan juga menyatakan, karena keluarga korban mempertanyakan penyebab kematian, maka jaksa telah memutuskan untuk melakukan otopsi minggu depan.