(Taiwan, ROC) —- Pada Jumat kemarin (28/2), Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell menyatakan bahwa Indeks PCE (Personal Consumption Expenditure Price Index) untuk Januari naik 0,3%. Angka ini sesuai dengan ekspektasi pasar, menunjukkan tekanan inflasi masih dalam kendali.
Akibatnya, harga emas turun 1% ke level US$2.846,19 per ons, dengan total penurunan mingguan sebesar 3,1%, mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak November 2022.
Jim Wyckoff, analis senior pasar di Kitco Metals, menjelaskan, "Faktor utama yang mempengaruhi pasar emas dan perak adalah berlanjutnya aksi ambil untung selama seminggu dan menguatnya indeks dolar AS."
Sementara itu, Peter Grant, Wakil Presiden dan Strategis Senior Logam di Zaner Metals, menyatakan bahwa investor tetap waspada terhadap potensi tekanan harga dari kebijakan Presiden Donald Trump, yang menyebabkan pembukaan pasar saham yang lesu.
"Kerugian di pasar saham memperburuk tekanan deleveraging pada emas, menyebabkan aksi jual setelah emas mencapai rekor tertinggi pada hari Senin," ujar Peter Grant.
Meskipun demikian, Daniel Ghali, Strategis Komoditas TD Securities, berpendapat bahwa Indeks PCE tidak menyebabkan perubahan substansial dalam ekspektasi harga terhadap kebijakan Fed, sehingga dampaknya terhadap harga emas akan terbatas.
Yang perlu diperhatikan, Presiden Donald Trump mengumumkan pada Kamis kemarin (27/2) bahwa mulai 4 Maret 2025 mendatang akan memberlakukan tarif 25% pada barang-barang dari Meksiko dan Kanada, serta menambah tarif tambahan 10% pada barang-barang impor dari Tiongkok.
Pasar khawatir tindakan ini dapat memicu ketegangan perdagangan dan mendorong perdagangan safe-haven, yang mengakibatkan harga emas naik untuk bulan kedua berturut-turut.