History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Hari Ini 28 Februari (228) Adalah Hari Penting Bagi Taiwan: Mengenang Sejarah Kelam dan Merajut Perdamaian di Bumi Formosa

  • 28 February, 2025
  • 尤繼富
Hari Ini 28 Februari (228) Adalah Hari Penting Bagi Taiwan: Mengenang Sejarah Kelam dan Merajut Perdamaian di Bumi Formosa
Hari Ini 28 Februari (228) Adalah Hari Penting Bagi Taiwan: Mengenang Sejarah Kelam dan Merajut Perdamaian di Bumi Formosa 圖:WIKIPEDIA

(Taiwan, ROC) --- Hari Peringatan Perdamaian 228 telah tiba, di mana Taiwan akan libur selama satu hari. Hari ini adalah momen penting bagi orang Taiwan. Beberapa orang mungkin masih tidak mengerti mengapa Taiwan memperingati peristiwa 28 Februari dengan cara diliburkan.

Artikel ini akan memberikan penjelasan ringkas tentang peristiwa 28 Februari, termasuk penyebab kejadiannya, pemicu, dan pengaruhnya terhadap Taiwan.

Peristiwa 28 Februari terjadi pada tanggal 28 Februari 1947 di Taiwan dan dapat ditelusuri kembali ke berbagai masalah politik, ekonomi, dan sosial pada waktu itu, serta ketidakpuasan rakyat Taiwan terhadap periode pemerintahan Jepang dan lingkungan politik setelah berakhirnya Perang Saudara Tiongkok.

Saat itu, Taiwan dikelola oleh Pemerintah Nasionalis Republik Tiongkok, tetapi metode pemerintahannya dianggap kurang ramah dan terbuka, yang menimbulkan kekecewaan di kalangan rakyat. Selain itu, dengan berakhirnya Perang Saudara Tiongkok, pemerintah nasionalis secara bertahap memperkuat metode pemerintahannya, melakukan penindasan politik terhadap Taiwan, dan secara signifikan mengurangi kebebasan berbicara dan ruang demokrasi, yang menyebabkan lebih banyak ketidakpuasan dan sentimen pemberontakan di antara rakyat.

undefined

228 Peace Memorial Park, Taipei. 圖/維基百科

Pemicu peristiwa 28 Februari adalah insiden penindakan rokok ilegal di sebuah bundaran, di mana petugas Taipei Monopoly Bureau menggunakan senjata api secara berlebihan dan melukai warga lokal. Keesokan harinya, masyarakat memulai demonstrasi, menuntut pemerintah untuk menghukum pelaku, dan memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat.

Saat itu, Taiwan berada dalam keadaan darurat militer, di mana pemerintah nasionalis dengan keras menindak suara-suara oposisi.

Ketidakpuasan dan ketidakpercayaan rakyat Taiwan terhadap pemerintah mencapai puncaknya setelah kejadian ini, yang kemudian memicu gelombang protes, pemogokan, dan demonstrasi di seluruh pulau, dengan beberapa kota dan provinsi menyatakan otonomi.

undefined

Di depan kantor cabang Taipei Monopoly Bureau (yang terletak di Jalan Chongqing Selatan saat ini), terdapat kerumunan besar masyarakat yang sedang melakukan protes. 圖/維基百科

Pemicu Insiden 28 Februari

Pemicu Insiden 28 Februari berasal dari penanganan yang tidak tepat oleh petugas pemeriksa, polisi militer, dan unit polisi dalam penindakan penyelundupan rokok.

Pada tanggal 27 Februari 1947, sekitar pukul 10 pagi, Taipei Monopoly Bureau menerima informasi rahasia tentang adanya aktivitas penyelundupan korek api dan rokok di pelabuhan Tamsui.

Sebanyak enam petugas pemeriksa dikirim untuk menyelidiki, tetapi akhirnya mereka hanya menemukan sedikit rokok dan tidak ada temuan besar. Enam petugas tersebut masing-masing adalah Fu Hsueh-tung (傅學通), Yeh Te-ken (葉德根), Zhao Zi-jian (趙子健), Liu Chao-qun (劉超群) dan Sheng Tie-fu (盛鐵夫)

Sekitar pukul 6 sore, petugas pemeriksa kembali ke Taipei dan pergi ke area sekitar Bundaran Taiheichō (太平町) untuk mencari rokok selundupan, menyebabkan penjual rokok ilegal di sekitar pun bergegas melarikan diri.

Akhirnya, di persimpangan Yanping North Road dan Nanjing West Road di bawah teras Rumah Teh Tianma (Tianma Tea House), mereka menemukan Lin Jiang-mai (林江邁) yang tidak sempat melarikan diri dan kedapatan menjual rokok ilegal.

Petugas pemeriksa lalu menyita semua rokok dan uang tunai yang ditemukan, tetapi Lin Jiang-mai, yang kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya, memohon agar semua barangnya tidak disita dan setidaknya sebagian dikembalikan.

Para penonton yang berada di sekitar juga berkumpul untuk membantunya memohon, tetapi petugas pemeriksa menolak permintaan tersebut. Dalam keadaan panik, Lin Jiang-mai memeluk petugas pemeriksa Yeh Te-ken (葉德根) dan tidak melepaskannya.

Yeh Te-ken (葉德根) kemudian memukul kepala Lin dengan gagang pistol yang dia bawa, menyebabkan Lin terluka dan pingsan.

Para penonton yang melihat kejadian itu menjadi marah dan langsung mengepung petugas pemeriksa. Petugas pemeriksa kemudian meninggalkan mobil barang dan melarikan diri, dengan massa yang mengejar di belakang.

Dalam keadaan terdesak, petugas pemeriksa Fu Hsueh-tung (傅學通) menembakkan senjata ke arah massa sebagai peringatan. Tembakan ini kemudian mengenai dada Chen Wen-hsi (陳文溪), seorang warga yang sedang menonton dari rumahnya, yang kemudian meninggal keesokan harinya.

undefined

Pada tahun 2005, bangunan asli Rumah Teh Tianma 天馬茶房 (Tianma Tea House) dirobohkan dan digantikan dengan sebuah bangunan baru. Tulisan "Tianma Tea House 天馬茶房" pada dinding luar bangunan dijadikan sebagai papan nama kafe yang dibuka oleh pekerja sejarah dan budaya lokal. 圖/維基百科

Insiden yang memicu kemarahan masyarakat tersebut semakin meningkat. Truk milik Taipei Monopoly Bureau yang ditinggalkan oleh petugas pemeriksa, beserta dengan rokok selundupan yang telah disita, ditarik ke pusat kota dan dirusak serta dibakar sebagai tindakan protes.

Kemarahan masyarakat semakin memuncak dan mereka mengejar petugas pemeriksa yang berlindung di Kantor Polisi Yongle (永樂町派出所), kemudian bergerak untuk mengepung markas besar polisi, menuntut agar pelaku penembakan diserahkan dan dihukum mati.

Seorang pejabat polisi mencoba menjelaskan situasi penangkapan rokok di pusat kota kepada massa, tetapi usahanya tidak berhasil meredakan kemarahan mereka.

undefined

Kantor Polisi Yongle (永樂町派出所) terletak di No. 260, Section 1, Dihua St, Datong District, menjadi saksi kelam dari Insiden 228. 圖/維基百科

Sekitar pukul 9 malam, ketika massa mengetahui bahwa petugas pemeriksa telah dibawa ke Markas Besar Resimen Kavaleri Keempat Taipei, mereka pergi ke brigade tersebut untuk memprotes. Massa berkumpul dan mengepung kawasan tersebut, menuntut agar pelaku diserahkan.

Komandan Zhang Mu-tao (張慕陶) dilaporkan telah beberapa kali berusaha menenangkan dan menegur massa yang berkumpul di lokasi protes. Namun, usahanya tersebut justru dibalas dengan hujatan dan makian dari para pengunjuk rasa.

Sebagian masyarakat mendatangi kantor surat kabar "Taiwan Shin Sheng Daily News" untuk meminta penerbitan tentang insiden tersebut.

Pemimpin redaksi di kala itu,  Wu Chin-lien (吳金鍊) menyatakan bahwa ia telah menerima perintah dari kantor pemerintahan pusat yang melarang penerbitan berita tentang insiden tersebut, yang kemudian membuat massa marah lalu merusak plang nama, dan mengancam akan membakar kantor surat kabar.

Wu Chin-lien kemudian meminta Ketua Lee Wan-chu (李萬居) untuk menenangkan massa. Penerbitan berita tersebut akhirnya disetujui, kerumunan pun bubar dan keesokan harinya menerbitkan berita singkat tentang insiden bersangkutan.

Pada tanggal 28 Februari, kerumunan masyarakat kembali mengelilingi kantor polisi dan unit polisi militer untuk menuntut penanganan pelaku yang sembrono.

Warga yang tidak puas berkumpul di kota Taipei untuk memulai petisi, demonstrasi, dan pidato tentang insiden tersebut. Mereka mengumumkan aksi pemogokan pasar, pemogokan sekolah, dan pemogokan kerja.

Banyak toko yang kemudian tutup satu persatu, menciptakan suasana ketidaknyamanan di jalan-jalan.

undefined

Pada 28 Februari 1947, kerumunan orang berkumpul di depan Taipei Monopoly Bureau, melempar barang-barang seperti rokok, alkohol, dan korek api yang disimpan di dalam ke jalan, serta membakar sepeda yang terparkir di sebelah sebagai cara untuk meluapkan kemarahan mereka. 圖/維基百科

Pada pukul 9 pagi, masyarakat berdemonstrasi menuju kantor cabang Taipei Monopoly Bureau yang terletak di Honmachi (saat ini Distrik Zhongzheng). Saat melewati kantor polisi di Taiping Ting Er Ding Mu (太平町二丁目派出所), mereka dihadang oleh polisi. Hal ini memicu kemarahan massa, yang kemudian mengepung, memukuli petugas, dan menghancurkan barang-barang di dalam kantor polisi.

Pada pukul 10 pagi, massa berkumpul di kantor cabang Taipei Monopoly Bureau, mereka lalu menyerbu ke dalam dan memukuli hingga menewaskan 2 staf, serta melukai 4 orang lainnya.

Mereka juga membakar semua barang yang disimpan di sana, termasuk korek api, rokok, alkohol, peralatan, mobil, dan sepeda yang diletakkan di jalan.

Polisi yang tiba di tempat kejadian melihat banyaknya penonton dan kemarahan massa, hanya bisa berdiri dan menonton tanpa berani mengambil tindakan.

Pada pukul 12 siang, massa mengelilingi kantor pusat Monopoli Bureau di Nanmen, menuntut hukuman bagi sang pelaku penembakan di tanggal 27 Februari. Namun karena polisi dan pasukan bersenjata sudah bersiap, mereka hanya bisa memecahkan kaca kantor Monopoli Bureau sebagai pelampiasan kemarahan.

Karena tuntutan mereka tidak terpenuhi, massa kemudian bergerak ke kediaman mantan Kepala Monopoli Bureau, Ren Wei-chun (任維鈞) dan Chen He-sheng (陳鶴聲), yang keduanya tidak berada di rumah saat itu. Massa kemudian menghancurkan barang-barang di dalamnya. Beberapa mesin di bagian pabrik Monopoli Bureau juga dirusak.

Pada pukul 1 siang, massa bergerak dari stasiun Taipei menuju kantor gubernur untuk melakukan demonstrasi, tetapi sebelum mencapai alun-alun kantor gubernur di persimpangan Jalan Zhongshan, mereka dihadang oleh penjaga bersenjata yang menghalangi mereka untuk maju.

Kemudian, penjaga di lantai dua kantor gubernur menembaki mereka dengan senapan mesin, menyebabkan setidaknya 2 orang tewas dan beberapa lainnya terluka, sementara para demonstran lainnya berpencar untuk mencari perlindungan.

Setelah insiden penembakan oleh petugas keamanan di kantor gubernur, gelombang protes, demonstrasi, dan aksi unjuk rasa dari masyarakat dihadapi dengan tindakan represif bersenjata oleh pemerintah, yang memperumit dan meningkatkan risiko situasi tersebut.

undefined

Sebelum terjadinya Insiden 28 Februari, pemberitaan surat kabar tentang berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan membuat masyarakat Taiwan sangat tidak puas dengan sikap pemerintahan. 圖/維基百科

Kejadian ini memicu kemarahan massa lebih lanjut, yang awalnya hanya menuntut hukuman bagi pelaku penembakan di tanggal 27 Februari, berubah menjadi demonstrasi anti-gubernur dan meningkatkan konflik antar warga Taiwan dengan mereka yang berasal dari provinsi di Tiongkok.

Kekacauan yang melibatkan kekerasan di jalanan Taipei tidak dapat terbendung lagi. Masyarakat menguasai berbagai jalan utama, ruang publik, hotel, toko, dan lain-lain, memperburuk kekacauan yang sudah tidak terkendali.

Didorong oleh kebencian antarkelompok, banyak warga sipil menjadikan pegawai negeri, polisi, dan tentara yang berasal dari Tiongkok sebagai sasaran utama.

Pedagang dan warga sipil yang berasal dari Tiongkok juga terkena imbasnya karena sulit dibedakan. Kasus pemukulan terjadi di berbagai tempat, seperti Gerbang Selatan Kota Taipei (臺北府城南門), Taman Baru Taipei (臺北新公園), Stasiun Taipei (臺北車站), Honmachi (本町), Yongle (永樂町), Taiping (太平町), dan Wanhua (萬華). Selain itu, banyak orang yang berasal dari Tiongkok dikumpulkan dan diawasi di satu tempat.

Perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh orang berdarah Tiongkok juga menjadi sasaran pelampiasan amarah. Beberapa toko dan hotel, seperti Hotel Zheng Hua (正華大旅社), Hu Biao Yong An Tang (虎標永安堂), dan New Taiwan Corporation (新臺公司) dirusak dan dibakar. Mobil, truk, barang, dan komoditas juga dibakar dan dirusak.

Di Hsinchu, Bupati Zhu Wen-bo (朱文伯) dan Wakil Komandan Keamanan, Wang Min-ning (王民寧) hampir menjadi sasaran amukan massa. Namun, di tengah kekacauan, banyak orang Taiwan yang menunjukkan sikap kemanusiaan dengan melindungi dan membantu orang-orang dari Tiongkok Daratan.

Ketidakpuasan warga meledak hingga mereka menduduki Stasiun Radio Taiwan dan meminta menyiarkan ke seluruh Taiwan perihal seruan untuk mengkritik aksi korupsi, ekspor beras ke luar negeri, dan penderitaan rakyat. Pendemo meminta masyarakat untuk berdiri melawan.

Setelah Gubernur Chen Yi (陳儀) mengumumkan keadaan darurat sementara di wilayah Taipei, pasukan militer dan polisi dikerahkan untuk menembaki dan menekan demonstrasi. Militer berpatroli terus menerus, menyebabkan korban luka dan kematian di berbagai lokasi.

undefined

Interaksi antara kepala daerah di berbagai kabupaten dan kota di Taiwan dengan komite penanganan dan pasukan militer selama periode Insiden 28 Februari. 圖/維基百科

Di wilayah utara Taiwan, terjadi beberapa bentrokan sporadis. Di Kota Keelung, pemuda-pemuda lokal menyerang kantor polisi, pos polisi, dan asrama lembaga, serta memukuli orang-orang yang berasal dari Tiongkok dan tentara. Kerusuhan ini dipadamkan oleh Markas Besar Keelung, dan polisi. Situasi baru berangsur-angsur mereda setelah pemerintah militer mengumumkan darurat militer.

Selanjutnya, pada tanggal 4 Maret, tokoh lokal Su Shao-wen (蘇紹文) ditugaskan untuk menempatkan komandan pertahanan Hsinchu dan menerapkan darurat militer di area Hsinchu. Ia lalu mengeluarkan pengumuman, dan setelah itu tidak ada insiden besar yang terjadi.

Seiring meningkatnya tindakan perlawanan dari masyarakat Taiwan, konflik yang bermula di Kota Taipei dengan cepat menyebar ke wilayah lain, mengubah insiden keamanan menjadi sebuah gerakan politik yang luas.

Setiap kota besar terjadi kerusuhan dan bentrokan, dimana warga menyerang, mengepung, atau menguasai instansi pemerintah dan kantor polisi sebagai bentuk protes, serta melakukan kekerasan terhadap penduduk yang berasal dari Tiongkok.

Di beberapa daerah, ada desakan untuk menjaga kantor polisi, pos polisi, barak militer, dan gudang senjata agar tidak digunakan untuk menembak warga sipil, sambil mengambil alih tanggung jawab menjaga keamanan mereka sendiri.

Konflik bersenjata atau tindakan represif juga terjadi saat ada upaya untuk mengambil alih senjata dari militer dan polisi, yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan.

Kebencian terhadap berbagai kebijakan yang tidak adil memicu sebagian besar aksi perlawanan dan konflik ini, yang terutama ditujukan terhadap masalah korupsi politik.

Para peserta dalam gerakan ini berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa, mantan tentara Taiwan yang pernah bertugas di era Jepang, orang-orang yang kehilangan pekerjaan, pemimpin lokal, hingga preman jalanan.

Pada tanggal 1 Maret, kekacauan melanda Kota Banqiao, dimana warga menyerbu kantor pemerintahan Kabupaten Taipei dan memukuli stafnya.

Di kota Tamsui dan Ruifang, terjadi pula pemukulan terhadap penduduk berdarah (keturunan) Tiongkok. Massa menyerang gudang pemasok di kota Shilin dan Xindian, merampok senjata dan perlengkapan militer serta melakukan pembakaran.

Asrama karyawan Persiapan Pertambangan Emas dan Tembaga Taiwan di Jinguashi juga dirusak. Warga Kota Taoyuan mengambil alih pemerintahan Kabupaten Hsinchu, mengusir pejabat polisi, dan menghalangi pasukan militer yang dipindahkan dari Kota Kaohsiung ke Kota Taipei. Sementara di Kota Changhua, terjadi pemukulan terhadap tentara di stasiun kereta Changhua.

Pada tanggal 2 Maret, mahasiswa yang bergerak dari Kota Taipei ke Kota Hsinchu menyerukan untuk bergabung dalam pemberontakan. Warga mulai memukuli penduduk berdarah Tiongkok, merusak toko, dan menyerang kantor pemerintah Kota Hsinchu, serta merusak Pengadilan Distrik Taiwan Hsinchu, kantor polisi, dan asrama pegawai negeri. Situasi tersebut berakhir ketika pasukan kepolisian militer dikerahkan untuk menekan dan membubarkan kerumunan.

undefined

Tulisan pada monumen peringatan tempat meletusnya Insiden 28 Februari yang berlokasi di Dadaocheng saat ini. 圖/維基百科

Dampak Politik - Insiden 28 Februari

Insiden 28 Februari menunjukkan bahwa pemerintah Kuomintang saat itu telah kehilangan dukungan rakyat di Taiwan, memicu rasa tidak puas rakyat Taiwan terhadap pemerintah, dan memberikan tekanan besar terhadap pemerintahan Kuomintang.

Setelah kejadian tersebut, metode pemerintahan Kuomintang di Taiwan secara bertahap berubah menjadi lebih berfokus pada aspek ekonomi, salah satunya adalah peningkatan status ekonomi Taiwan.

Dampak Sosial - Insiden 28 Februari

Insiden 28 Februari memicu kekacauan dan perpecahan dalam masyarakat, memberikan dampak besar terhadap masyarakat Taiwan di kala itu. Setelah peristiwa tersebut, masyarakat Taiwan secara bertahap membentuk rasa tidak percaya terhadap pemerintah, yang juga mendorong perkembangan demokratisasi di Taiwan. Rakyat mulai memiliki tuntutan yang lebih tinggi terhadap hak dan kebebasan mereka. Dalam beberapa dekade setelah peristiwa itu, masyarakat Taiwan secara bertahap beralih dari pemerintahan otoriter menuju demokratisasi, dengan Insiden 28 Februari menjadi salah satu tonggak penting dalam proses demokratisasi Taiwan.

Dampak Budaya - Insiden 28 Februari

Setelah Insiden 28 Februari, masyarakat Taiwan mulai memberi perhatian lebih pada budaya lokal Taiwan, serta mulai menafsir ulang sejarah, menemukan kembali nilai sejarah dan budaya Taiwan.

Setelah peristiwa tersebut, masyarakat Taiwan memulai serangkaian gerakan revitalisasi budaya, memberikan perhatian pada aspek budaya, seni, bahasa, dan makanan lokal Taiwan, yang lebih lanjut memperkuat identitas budaya unik Taiwan.

二二八和平公園- 中正區- 台北市- 台灣旅遊資訊- 旅遊導覽| TravelKing旅遊王

Monumen Peringatan 228. 圖/維基百科

Di Taiwan, tanggal 28 Februari akan diperingati sebagai Hari Perdamaian. Di mana setiap tahun pada tanggal 28 Februari, seluruh warga akan diliburkan.

Secara umum, Insiden 28 Februari telah membawa pengaruh yang sangat mendalam terhadap Taiwan, tidak hanya mengubah landasan politik, ekonomi, dan sosial di Taiwan, tetapi juga mendorong perkembangan dan diversifikasi budaya setempat

Lebih jauh lagi, insiden ini telah menjadi katalisator bagi transisi Taiwan menuju masyarakat yang lebih demokratis.

Rangkuman ini bertujuan untuk memberikan pemahaman singkat yang lebih baik mengenai Insiden 28 Februari, mulai dari akar penyebab, pemicu kejadian, hingga dampak jangka panjang yang ditimbulkannya.

Komentar

Terbarumore