(Taiwan, ROC) --- Konferensi pers Cycling for a Free Tibet digelar pada Rabu hari ini (19/2) di depan Stasiun MRT Zhongshan, Taipei, dengan mengumpulkan pendukung dari Tibet, Hong Kong, dan Taiwan, bersama-sama menyerukan perhatian internasional terhadap penindasan pemerintah Tiongkok di Tibet dan Hong Kong.
Di lokasi tersebut, mereka meneriakkan bahwa nasib Tibet dan Hong Kong saling berkaitan, serta mengkritik pemerintahan otoriter Tiongkok yang menindas kebebasan dan budaya Hong Kong dan Tibet, bahkan mengancam nilai-nilai demokrasi global. Mereka juga menyerukan masyarakat internasional untuk terus memberikan dukungan dan tidak melupakan perjuangan ini.
Pada 10 Maret 1959, terjadi Hari Pemberontakan Tibet, di mana rakyat Tibet di Lhasa melawan pemerintahan Tiongkok dan mengalami penumpasan berdarah. Dalai Lama dan sekitar 80.000 warga Tibet mengungsi ke India.
Tahun ini menandai peringatan ke-66 dari Hari Pemberontakan Tibet 310. Aliansi Hak Asasi Manusia Tibet-Taiwan telah menyelenggarakan acara Cycling for a Free Tibet sejak 2009, berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Taiwan tentang hak asasi manusia di Tibet.
Human Rights Network for Tibet and Taiwan menggelar konferensi pers pada Rabu (19/2) di Stasiun MRT Zhongshan, Taipei, dengan mengundang kelompok advokasi hak asasi manusia dari Tibet dan Hong Kong untuk datang ke Taiwan memberikan dukungan, bersama-sama menyerukan perhatian internasional terhadap penindasan pemerintah Tiongkok di Tibet dan Hong Kong.
Sekretaris Jenderal Hong Kong Outlanders, Feng Zhao-tian (馮詔天) menyatakan bahwa pengalaman Hong Kong dan Tibet sangat mirip, mulai dari Perjanjian Damai 17 Poin hingga Satu Negara Dua Sistem, janji-janji pemerintah Tiongkok hanyalah alat, dengan tujuan akhir untuk mengendalikan sepenuhnya.
Dia lebih lanjut menyatakan bahwa sekarang orang Hong Kong bisa ditangkap hanya karena bersepeda di jalan atau mengibarkan bendera, yang mana ini hampir sama dengan yang dialami rakyat Tibet. Feng Zhao-tian menekankan bahwa dulu Hong Kong dikenal secara global sebagai masyarakat yang menjunjung hukum, tetapi sejak diberlakukannya Undang-undang Keamanan Nasional, membuat supremasi hukum dan kebebasan di Hong Kong telah lenyap.
Feng Zhao-tian mengatakan, "Hong Kong saat ini, sebenarnya banyak orang Hong Kong seperti saya dulu, berpikir bahwa hidup kami tidak akan berubah, kami hanya menjalani kehidupan seperti biasa, terus bekerja dan menghasilkan uang, dan kami akan terus menikmati kebebasan kami, tapi sebenarnya kami ingin memberitahu semua orang, baik pengalaman Hong Kong maupun Tibet di masa lalu, menunjukkan bahwa semua itu hanyalah ilusi, semua yang dikatakan Tiongkok adalah kebohongan."
Seorang pengungsi Hong Kong di Taiwan lainnya, Fu Tang (赴湯), menunjukkan bahwa pengasingan adalah jalan yang sulit, meninggalkan rumah bukan berarti menyerah, tetapi merupakan bentuk keteguhan. Dia menekankan bahwa pemerintah Tiongkok mencoba berbagai cara untuk membuat para pengungsi kehilangan identitas diri, tetapi selama masih ada orang Hong Kong yang mengingat akar mereka, perjuangan untuk hak asasi manusia ini tidak akan berakhir.
Lobsang Yangtso, koordinator advokasi International Tibet Network juga menyebutkan bahwa pengaruh Tiongkok telah merembes ke seluruh dunia, termasuk Taiwan.
Bukan hanya Tibet dan Hong Kong, melainkan seluruh dunia harus waspada terhadap infiltrasi dan ekspansi Tiongkok, ini bukan hanya masalah hak asasi manusia, tetapi juga tantangan bersama bagi masyarakat global.
Lobsang Yangtso menyerukan agar generasi muda bersatu untuk melawan infiltrasi dan pengaruh Tiongkok di berbagai negara, serta memastikan masyarakat demokratis tidak diperlemah.