(Taiwan, ROC) --- Dalam bahasa Mandarin, kita sering mendengar pepatah yang berbunyi 禍從口出 huò cóng kǒu chū, secara harfiah, pepatah ini berarti masalah keluar dari mulut.
Dalam hal makanan, dokter juga memiliki peringatan serupa, yakni kanker masuk lewat mulut.
Pakar genetika terkemuka di Taiwan, Dokter Chang Chia-ming (張家銘) menjelaskan bahwa beberapa makanan dapat menyebabkan mutasi DNA dan diam-diam meningkatkan risiko kanker.
"Para ilmuwan telah membuktikan bahwa makanan tertentu dapat menyebabkan mutasi DNA, membuat sel-sel kehilangan kendali, dan akhirnya berkembang menjadi kanker. Dengan kata lain, kebiasaan makan kita mungkin sedang menentukan nasib kesehatan kita di masa depan," terang Dokter Chang Chia-ming.
Menurut laporan WHO, rokok, alkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan obesitas adalah faktor risiko utama penyebab kanker. Orang biasanya mengaitkan dampak negatif makanan dengan obesitas, ketidakseimbangan nutrisi, penyakit kardiovaskular, dan diabetes, tetapi sebenarnya makanan yang kita konsumsi setiap hari tidak hanya mempengaruhi berat badan atau kolesterol, tetapi juga dapat langsung mempengaruhi gen.
Dokter Chang Chia-ming menegaskan bahwa makanan yang paling disukai sel kanker adalah makanan panggang, gorengan, dan makanan olahan.
"Bayangkan saja, sosis bakar di pasar malam, steak panggang di restoran, atau ayam goreng krispy, semua makanan lezat yang dimasak dengan suhu tinggi atau digoreng ini bisa merusak DNA kita hanya dengan satu gigitan!" jelasnya.
Ketika daging dimasak dengan suhu tinggi, akan menghasilkan Heterocyclic Amines (HCAs) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs). Zat-zat kimia ini dapat menyerang dan mengubah sel DNA, meningkatkan risiko kanker. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi makanan panggang dan gorengan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker usus besar, kanker lambung, dan kanker pankreas.
Selanjutnya adalah makanan olahan seperti bacon, ham, hot dog, dan sosis. Makanan yang tampak praktis dan lezat ini sebenarnya mengandung banyak nitrit. Dokter Chang Chia-ming menjelaskan, "Zat aditif ini dapat berubah menjadi nitrosamin dalam tubuh, yang telah diklasifikasikan WHO sebagai karsinogen kelas 1, dan sangat terkait dengan kanker usus besar dan kanker lambung."
Singkatnya, mengonsumsi terlalu banyak daging olahan sama dengan mengakumulasi risiko kanker dalam tubuh.
Dokter Chang Chia-ming juga menekankan bahwa meskipun gen yang kita bawa sejak lahir tidak bisa diubah, tetapi pilihan makanan kita dapat mempengaruhi ekspresi gen dan menentukan kesehatan di masa depan.
Jadi sebelum memutuskan apa yang akan dimakan, sebaiknya dipikirkan baik-baik untuk mencegah mutasi DNA dan mengurangi risiko kanker.
"Memilih makanan sehat adalah untuk perjalanan hidup yang lebih panjang, jangan sampai menyesal di kemudian hari hanya karena menuruti nafsu makan sesaat," lanjut Dokter Chang Chia-ming.