(Taiwan, ROC) – Di Taiwan banyak keluarga yang mempekerjakan pekerja migran untuk merawat orang tua di rumah dan tinggal bersama mereka. Namun, tak disangka kini ada seorang majikan yang menuduh pekerja migran asal Indonesia telah mencuri uang ibunya dalam jangka waktu yang lama, dengan total jumlah lebih dari NT$ 780.000!
Sang majikan pun mencurigai pekerja migran tersebut sudah merencanakannya sejak awal, karena sebelum Tahun Baru Imlek, dirinya sudah mengajukan permohonan untuk keluar kerja. Bahkan, pada hari ketika ibu majikan pergi ke bank untuk memperbarui buku tabungannya, pekerja migran itu berpura-pura sakit dan keluar rumah, tetapi ternyata malah melarikan diri dan menghilang.
“Dia (pekerja migran) hanya berpura-pura. Saat dirinya mengeluh merasa sangat tidak enak badan, adik dan ibu saya merasa sangat khawatir. Ketika mereka membawa (buku tabungan) ke bank untuk mencetak catatan transaksi, dia (pekerja migran) pada saat itu justru melarikan diri. Saat adik saya membuka buku tabungan, dirinya pun terkejut melihat dalam satu hari tiba-tiba ada penarikan uang sebanyak NT$100 ribu. Semua uang telah habis diambil!” kata majikan.
Dilansir dari media EBC, pekerja migran yang dilaporkan berasal dari Indonesia ini telah menandatangani kontrak tiga tahun sejak tahun 2023 untuk bekerja di rumah, merawat ibu sang majikan yang sudah berusia 88 tahun. PMI tersebut menerima gaji lebih dari NT$20.000/bulan dan tetap dapat mengajukan cuti serta keluar rumah sesuai kebutuhannya. Namun, pekerjaan yang begitu dekat dengan lansia ini justru memberinya kesempatan untuk melancarkan aksinya, dirinya diduga mencuri dan menarik uang tabungan ibu majikan yang telah ditabung sejak dulu.
“Ibu saya bilang, setiap kali menarik uang, beliau selalu memberitahu pekerja migran kami untuk menjauh dari dirinya. Tapi sekarang kami tidak bisa memastikan apakah dirinya benar-benar menjauh atau tidak.” jelas sang majikan.
Berdasarkan perhitungan saat ini, PMI tersebut sejak Desember tahun lalu telah mencuri uang dari rekening ibu sang majikan di kantor pos, dengan total mencapai NT$560 ribu. Selain itu, rekening bank lainnya juga mengalami pencurian secara bertahap sejak Oktober tahun lalu, dengan total penarikan mencapai NT$220 ribu. Bahkan, hingga sehari sebelum PMI tersebut melarikan diri, dirinya masih terus menarik uang.
Majikan menemukan bukti dari rekaman CCTV di rumahnya. Pada Selasa (11/2) pagi, PMI tersebut terlihat masuk ke kamar ibunya dan tampak memasukkan tangannya ke dalam saku, yang mana diduga tengah mengembalikan kartu ATM sang ibu. Beberapa jam kemudian, dirinya masih bersembunyi di kamar sambil sibuk menggunakan ponselnya. Berbagai tindakan mencurigakan ini membuat majikan yakin bahwa pelariannya sudah direncanakan sejak awal.
“Kalau memang selama periode ini kamu tetap bekerja di sini, kenapa tidak bekerja dengan baik dan bahagia seperti biasanya?” kata majikan.
Sebelum Tahun Baru Imlek, PMI tersebut bahkan sempat menangis dan mengatakan akan terus bekerja. Namun kini, dirinya menghilang tanpa jejak, dan teleponnya pun tidak bisa dihubungi. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Meskipun majikan sudah melapor ke polisi, tetapi pihak kepolisian mencurigai bahwa dengan jumlah nominal uang yang begitu besar, kemungkinan ada lebih dari satu pelaku yang terlibat. Apakah uang hasil jerih payah sang ibu bisa kembali atau tidak, saat ini masih menjadi tanda tanya besar.