(Taiwan, ROC) - Kestabilan suku bunga, nilai tukar Dolar Taiwan, dan harga barang adalah tiga target yang akan diusahakan oleh pemerintah untuk memberikan lebih banyak ruang perkembangan bagi para pengusaha dan memastikan bahwa perekonomian Taiwan terus tumbuh di tahun baru 2025.
Demikian ditegaskan oleh Presiden Lai Ching-te (賴清德) saat menghadiri dan menyampaikan sambutan dalam acara menyambut musim semi yang digelar oleh Asosiasi Pengusaha Taiwan di Daratan Tiongkok pada hari Senin.
Dalam pidatonya, Presiden Lai pertama-tama mengemukakan, tingkat pertumbuhan ekonomi dan kinerja pasar saham menunjukkan bahwa Taiwan telah mencatat prestasi ekonomi yang baik tahun lalu, maka adalah tanggung jawab pemerintah untuk memberikan lebih banyak ruang perkembangan bagi para pengusaha dan memastikan bahwa perekonomian Taiwan terus tumbuh.
Untuk itu, Lai menekankan, selain perpanjangan “Tiga Skema Utama Investasi di Taiwan” hingga tahun 2027, langkah-langkah subsidi investasi juga akan terus dipromosikan dan diperluas ke perusahaan kecil dan menengah serta perusahaan rintisan.
Selain itu, pemerintah akan terus meninjau kebijakan perihal air, listrik, tanah, tenaga kerja, dan bakat, serta menstabilkan suku bunga dan nilai tukar Dolar Taiwan. Presiden Lai mengatakan, “Yang pertama adalah suku bunga. Kami pasti akan mengendalikan suku bunga sehingga biaya modal yang diinvestasikan oleh para pengusaha tidak akan meningkat. Yang kedua adalah, nilai tukar Dolar Taiwan akan diusahakan tetap stabil. Kami menyadari perubahan geopolitik terkini di seluruh dunia, dan tindakan perdagangan internasional baru akan muncul. Bank Sentral dan Yuan Eksekutif akan bekerja keras untuk menjaga nilai tukar tetap stabil.”
Untuk yang ketiga, kepala negara menekankan bahwa harga barang juga akan dijaga agar tetap stabil dengan tujuan mempertahankan indeks harga konsumen (IHK) pada kisaran 1,8% hingga 1,9% untuk tahun 2025.
Mengenai perkembangan hubungan lintas Selat Taiwan, Presiden Lai mengemukakan bahwa ia berharap kedua pihak di Selat Taiwan dapat menggantikan pengepungan dengan pertukaran dan konfrontasi dengan dialog, juga menegaskan bahwa Taiwan dan Tiongkok memiliki musuh bersama, yaitu bencana alam dan gempa bumi, juga memiliki target bersama, yakni kesejahteraan rakyat di kedua sisi Selat Taiwan.