(Taiwan, ROC) --- Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro baru saja saling membalas dengan memberlakukan tarif, setelah Kolombia menolak penggunaan pesawat militer AS untuk memulangkan imigran. Namun kurang dari 24 jam, sikap Kolombia berubah 180 derajat dan melunak menerima semua persyaratan AS. Media Kolombia menyebutkan alasan utamanya adalah kepentingan ekonomi yang besar.
Media Kolombia melaporkan bahwa Gustavo Petro awalnya bersikap keras dan berani berhadapan dengan Donald Trump, digambarkan sebagai satu-satunya pemimpin Amerika Latin yang berani mengatakan tidak pada Donald Trump.
Namun, tindakan Gustavo Petro ini memicu perdebatan pro dan kontra di Kolombia. Dalam pertemuan membahas respons terhadap sanksi AS, beberapa anggota kabinet mengusulkan untuk mempertahankan dialog dengan Gedung Putih, dengan sikap yang lebih moderat untuk meredakan ketegangan.
Sikap kukuh Gustavo Petro tentang melindungi martabat imigran Kolombia ternyata tidak bisa menahan tekanan realitas ekonomi. Menurut media El Pais, lebih dari seperempat total ekspor Kolombia ditujukan ke AS, sangat bergantung pada pasar Negeri Paman Sam.
Dari jumlah tersebut, 40% adalah minyak mentah, 11% kopi, dan 10,5% bunga. Ekspor kopi Kolombia ke AS saja bisa bernilai US$2 miliar (sekitar NT$65 miliar) per tahun.
Selain itu, industri bunga adalah yang paling terdampak, karena industri ini menyediakan 200.000 lapangan kerja di Kolombia, dengan setengah dari pekerjanya adalah perempuan.
Kolombia memperkirakan akan mengekspor 45.000 ton bunga ke AS tahun ini, dengan nilai mencapai US$40 juta. Hari Valentine adalah puncak musim ekspor, dan jika terkena kenaikan tarif, maka kerugiannya tidak terhitung.
Surat kabar El Espectador melaporkan, banyak kepala pemerintah daerah yang ekonomi wilayahnya bergantung pada ekspor ke AS, dengan keras menentang sikap bermusuhan Gustavo Petro terhadap AS.
Mereka bahkan mengusulkan untuk membentuk delegasi sendiri ke Washington untuk menyatakan bahwa Gustavo Petro tidak mewakili seluruh rakyat Kolombia.
Mereka juga mendesak Gustavo Petro untuk menangani hubungan dengan AS secara tenang, menghindari peningkatan ketegangan yang dapat berdampak lebih serius pada ekonomi Kolombia.
Tidak hanya dalam aspek ekonomi, Kolombia juga telah lama menjadi mitra strategis AS di Amerika Latin.
Pemerintah AS memberikan bantuan sebesar US$600 juta setiap tahunnya, dan kedua negara bekerja sama dalam memerangi kelompok gerilyawan dan aktivitas perdagangan narkoba.