(Taiwan, ROC) -- Pemerintahan Amerika Serikat di bawah pimpinan Joe Biden, mengumumkan akan menerapkan kontrol ekspor menyeluruh terhadap chip AI canggih yang diproduksi oleh NVIDIA dan produsen semikonduktor lainnya. Analis investasi domestik menyatakan bahwa karena TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company) adalah bagian dari rantai pasokan perusahaan AS, dan dengan berkurangnya negara tujuan ekspor, maka peluang bisnis perusahaan seperti NVIDIA pasti akan terpengaruh, yang pada gilirannya akan mengurangi pesanan ke TSMC.
Sementara itu, jika Tiongkok tidak dapat memperoleh chip AI canggih, mereka harus menggunakan metode tradisional, yakni memproduksi dengan proses yang ketinggalan zaman, yang tentunya dapat mempengaruhi efisiensi dan tingkat hasil produksi. Pemerintah AS lebih lanjut juga membatasi ekspor chip dan teknologi AI dengan menetapkan batas terhadap daya komputasi yang dapat dijual ke sebagian negara, yang kemudian akan dibagi menjadi 3 tingkat kontrol.
Taiwan, Jepang, Inggris, Belanda, dan 18 sekutu kunci AS lainnya berada di tingkat pertama tanpa pembatasan ekspor, sementara Tiongkok dan negara-negara tingkat ketiga lainnya dilarang ekspor. Untuk negara-negara seperti Asia Tenggara dan Timur Tengah, termasuk Singapura, Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab akan menghadapi pembatasan baru dan memerlukan izin terlebih dahulu untuk membeli chip AI canggih, guna mencegah chip AI dari wilayah ini mengalir ke Tiongkok atau Rusia.
Harga saham perusahaan semikonduktor AS, termasuk NVIDIA, turun pada awal perdagangan kemarin (13/1). Selain itu, pada penjualan di pasar saham Taipei kemarin (13/1), investor asing merespons berita tersebut, dengan melakukan penjualan saham mereka terlebih dahulu. Ada sekitar 15.740 lot saham yang dijual investor asing. Meski demikian, investor domestik memberikan dukungan dengan melakukan pembelian besar-besaran.
Kepala Hua Nan Investment Trust, Cu Hsiang-sheng (儲祥生), menunjukkan bahwa meskipun larangan AS kali ini telah diperkuat, tetapi masih perlu diamati apakah benar-benar dapat sepenuhnya membatasi negara-negara untuk mendapatkan chip di masa depan. Mengingat tingginya permintaan Tiongkok terhadap chip AI, dan sebelumnya mereka masih bisa mendapatkannya dari Timur Tengah, Singapura, dan wilayah lain, karena sekarang negara-negara ini juga tunduk pada larangan tingkat kedua, maka mungkin mempengaruhi pesanan NVIDIA ke TSMC.
Cu Hsiang-sheng mengatakan, "Misalnya, chip NVIDIA atau AMD mungkin tidak mudah dijual ke negara dunia ketiga atau Tiongkok. Ini pasti akan mempengaruhi peluang bisnis mereka. Bagaimanapun, mereka masih harus memesan dari TSMC. Jika volume penjualan chip berkurang, pesanan mungkin akan berkurang juga. Ini adalah pemahaman awal yang kita miliki saat ini."
Cu Hsiang-sheng juga menerangkan, jika Tiongkok kekurangan chip AI canggih di masa depan, maka mereka hanya bisa mengandalkan produsen semikonduktor domestik. Akibatnya, chip AI yang diproduksi akan memiliki efisiensi dan tingkat hasil yang lebih rendah.