(Taiwan, ROC) – Industri pariwisata dan perhotelan Taiwan kini menghadapi 2 perubahan besar mulai 1 Januari lalu. Pertama, masa magang bagi pelajar asing yang mendaftar ke Taiwan akan dilonggarkan menjadi 1/2 dari masa akademik. Kedua, Kementerian Lingkungan Hidup telah memperluas target pencatatan inventarisasi karbon hingga mencakup industri perhotelan. Terkait dengan hal ini, Chairman Asosiasi Hotel Wisata Republik Tiongkok, Hsiao Ching-tien (蕭景田) menyampaikan, bahwa pelonggaran ini merupakan kabar baik bagi industri terkait, tapi upaya untuk mengatasi kesenjangan tenaga kerja masih terbatas, dan terkait inventarisasi karbon, masih perlu metode tindak lanjut, sebelum memberlakukan tindakan terkait.
“Poin-Poin Penting Pendaftaran Magang bagi Pelajar Asing untuk Industri Hotel Wisata dan Penginapan di Republik Tiongkok” resmi dimulai sejak Tahun Baru 2025. Masa magang bagi mahasiswa asing di industri pariwisata dan akomodasi Taiwan pada awalnya didasarkan pada persyaratan Kementerian Perekonomian. Awalnya waktu terpanjang bagi perusahaan dan badan hukum dalam mengajukan mahasiswa asing untuk magang ke Taiwan adalah 1 tahun, tapi kini dilonggarkan menjadi 1/2 dari masa akademik.
Chairman Asosiasi Hotel Wisata Republik Tiongkok, Hsiao Ching-tien dalam sebuah wawancara menyampaikan, bahwa hal ini merupakan kabar baik yang telah lama ditunggu oleh pihak industri terkait. Namun, karena saat ini jumlah pelajar asing yang belajar di Taiwan masih sedikit, dan kesenjangan tenaga kerja di industri perhotelan saat ini masih sebesar 20% hingga 30%, mereka tetap berharap pemerintah dapat melonggarkan pembatasan perekrutan pekerja migran asing di industri perhotelan. Pada saat yang sama, pelajar asing dengan pelatihan matang di industri perhotelan untuk mencari pekerjaan di Taiwan setelah lulus akan dibuka.
Hsiao Ching-tien mengemukakan, mahasiswa asing yang magang di industri perhotelan Taiwan tidak terbatas pada jurusan yang relevan. Selama kemampuan bahasa mereka baik, mereka dapat memegang pekerjaan teknis atau layanan di departemen katering atau departemen layanan pelanggan. Jika bisa mengoperasikan komputer, maka berkesempatan bekerja di konter, apalagi gaji bulanannya berkisar NT$30,000 hingga NT$40,000, sehingga banyak pelajar asing dari Asia Tenggara yang bersedia tinggal dan bekerja di Taiwan. Sayangnya, Kementerian Tenaga Kerja, Ditjen Imigrasi, dan bahkan badan keamanan nasional punya pertimbangan sendiri-sendiri.
Hsiao Ching-tien menekankan, bahwa jika pemerintah membuka diri, maka hal tersebut tidak hanya akan meningkatkan insentif bagi pelajar asing untuk datang ke Taiwan untuk belajar, tetapi juga menghemat setengah hari pelatihan industri perhotelan. Namun demikian, industri perhotelan masih perlu membuka pekerja migran asing untuk mengisi kesenjangan tenaga kerja di bidang yang relatif kasar seperti petugas kebersihan, pekerja binatu, atau pekerjaan umum.
Kementerian Lingkungan baru-baru ini mengumumkan, bahwa pendaftaran target pencatatan inventarisasi karbon akan diperluas ke industri perhotelan mulai tahun ini. Hsiao Ching-tien menyampaikan, bahwa masih perlu untuk memahami metode spesifik pencatatan inventarisasi karbon sebelum dapat memberikan tanggapan.