(Taiwan, ROC) – Menyambut tahun 2025, Paviliun Trenggiling di Kebun Binatang Taipei menyambut teman baru, yaitu 5 bayi galago (Senegal bushbaby) yang telah hadir di area hewan nokturnal. Masyarakat pun dipersilakan datang untuk menyapa mereka di tahun yang baru ini!
Kebun Binatang Taipei menyampaikan, melalui pos pertolongan pertama dan pusat perlindungan satwa liar Badan Konservasi Alam dan Kehutanan, di tahun sebelumnya telah menangkap 5 ekor galago muda dalam penggerebekan penyelundupan. Mereka masing-masing diberi nama “Kaimi”, “Kaike”, “Kaiya”, “Kairui”, dan “Kaikang”. Mereka dikarantina di pusat karantina dan penyelamatan satwa. Setelah evaluasi kesehatan, mereka ditempatkan di Paviliun Trenggiling. Setelah tim perawatan mengevaluasi kesejahteraan bayi galago, mereka pun digabungkan dengan hewan nokturnal lain, yaitu lemur kerdil ekor gemuk dengan bentuk tubuh dan kebiasaan makan serupa di pavilion hutan hujan tropis.
Galago atau Senegal bushbaby berasal dari Senegal, Afrika Barat dan tersebar melalui Afrika Tengah hingga wilayah timur Somalia. Mereka biasanya hidup di hutan, di kawasan semak belukar dengan panjang tubuh sekitar 13 hingga 15 sentimeter (tidak termasuk panjang ekor), dan berat 95 hingga 300 gram. Ia memiliki mata yang besar dan penglihatan malam yang sangat baik. Telinganya yang besar juga dapat ditekuk secara fleksibel, membantu mereka mendengar suara secara akurat dan menemukan lokasi serangga saat berburu serangga di malam hari. Mereka juga memiliki kaki belakang yang relatif kuat dan ekor yang panjang, memungkinkan mereka melompat dengan cepat di antara cabang dan menjaga keseimbangan.
Selain itu, bayi galago suka memakan belalang, telur burung, buah-buahan, biji-bijian dan bunga. Selama musim kemarau, mereka akan memakan getah yang dikeluarkan dari pepohonan;
Kebun Binatang Taipei mengutarakan, meskipun galago memiliki penampilan yang lucu, tapi mereka membawa resiko kematian dan penularan penyakit akibat pasar hewan peliharaan ilegal. Begitu mereka ditangkap dan menjadi binatang peliharaan, makan akan sulit bertahan di alam liar. Masyarakat diimbau untuk tidak membeli hewan liar yang tidak diketahui asal usulnya sebagai hewan peliharaan, tidak menelantarkan hewan peliharaan, dan tidak memberi makan hewan liar, agar binatang pendamping dan hewan liar "menyesuaikan diri dengan tempat yang tepat".