(Taiwan, ROC) -- Timbul kluster penularan campak di Taiwan saat ini, seorang warga yang pulang setelah ke Vietnam telah menyebabkan penularan pada 3 orang di rumah sakit, ditambah dengan 1 orang dalam pesawat satu perjalanan dengan nya. Juru Bicara Ditjen Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control/CDC) Tseng Shu-hui (曾淑慧) tanggal 18 menyampaikan, penyakit campak adalah penyakit dengan daya penularan yang tinggi, 1 orang dapat menyebar ke 20 orang, lebih kuat dari daya penularan COVID-19, saat ini sudah mencatat 152 orang yang berinteraksi dengan pasien tersebut dan memintanya untuk swakontrol kesehatan selama 18 hari, begitu timbul gejala harus segera meminta biro kesehatan setempat untuk membantu pengaturan berobat ke dokter, tidak disarankan berobat ke dokter sendiri.
CDC pada tanggal 10 Desember lalu mengumumkan penambahan 1 kasus yang terinfeksi dari luar masuk ke Taiwan, pasien ini adalah pria berusia 40 tahunan yang berdomisili di wilayah tengah Taiwan, beberapa sebelumnya sempat berkunjung ke saudaranya di Vietnam, dan setelah kembali ke Taiwan pada 1 Desember timbul gejala demam panas, sakit kepala, ingusan dan lainnya, selang sehari kemudian pasien masuk ke rumah sakit untuk rawat inap. Hasil tes demam berdarah, flu musiman, COVID-19 dan lainnya semua negatif, baru kemudian timbul ruam merah pada tanggal 5 Desember, setelah diperiksa dipastikan terdiagnosis campak, untuk itu pasien langsung diisolasi dan melaporkan kasus ini ke CDC. Berdasarkan peraturan CDC mengharuskan orang yang berinteraksi dengan pasien termasuk pasien satu kamar dan staf rumah sakit, orang yang duduk 2 baris depan dan belakang dalam pesawat dan lainnya harus melakukan pemeriksaan, hasil yang didapatkan 4 di antaranya terdiagnosis positif, yaitu peneman pasien satu kamar, suster, cleaning service dan teman satu pesawat saat kembali ke Taiwan, dengan demikian dari kluster ini ada 5 orang terdiagnosis positif.
Juru bicara CDC Tseng Shu-hui tanggal 18 menyampaikan, setelah terjadinya penularan kluster ini CDC dan biro kesehatan daerah telah melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi rumah sakit bersangkutan pada tanggal 17 Desember dan menyarankan untuk memperkuat pencegahan penularan, termasuk penerapan standar pelindungan diri, membentuk data vaksinasi MMR dari seluruh staf rumah sakit, memeriksa dan memberikan vaksin MMR kepada mereka dengan kekebalan tubuh negative, menerapkan mekanisme swakontrol kesehatan karyawan, menghentikan kegiatan besar akhir tahun, melakukan pelatihan pencegahan penularan campak dalam rumah sakit dan tindakan pencegahan lainnya
Tseng Shu-hui mengemukakan, saat ini telah meminta 152 orang yang berinteraksi langsung dengan kasus untuk swakontrol kesehatan selama 18 hari hingga tanggal 5 Januari 2025. Tseng Shu-hei menegaskan, sehubungan dengan daya penularan campak cukup kuat yaitu 1 orang dapat menularkan kepada 20 orang dengan masa inkubasi mencapi 18 hari, oleh karena itu mengimbau mereka yang termasuk dalam daftar terinteraksi dengan kasus untuk melakukan swakontrol kesehatan, menghindari berinteraksi dengan wanita hamil dan anak-anak, menggunakan masker saat keluar rumah, apabila timbul gejala demam panas, ingusan, batuk, muncul ruam, konjungtivitis, dan gejala lainnya segera menghubungi instansi kesehatan setempat untuk membantu berobat ke dokter, jangan pergi berobat ke dokter sendiri.
CDC kembali mengimbau, vaksinasi adalah cara pencegahan yang paling efektif, apabila ada anggota keluarga yang berusia genap satu tahun disarankan untuk sesegera mungkin menyuntikan vaksin MMR, dan kepada warga yang lahir tahun 1981 dan setelahnya yang berencana berkunjung ke kawasan terjangkit di Asia Tenggara dapat terlebih dulu meminta dokter mengevaluasi dan menyuntik vaksin baru keluar negeri agar dapat menekan risiko serendah mungkin.