(Taipei, ROC) --- Menanggapi Forum Kota Kembar Taipei-Shanghai tahun ini, akademisi Tsai Jung-hsiang (蔡榮祥) menyatakan bahwa terselenggaranya forum di Taipei menunjukkan pemerintah tidak menghalangi pertukaran lintas selat. Namun, ia juga mengamati strategi ganda Tiongkok yang di satu sisi ingin melakukan pertukaran tetapi tetap melanjutkan ancaman militer, sehingga membuat orang meragukan ketulusan niat mereka untuk melangsungkan pertukaran.
Mengenai isu wisatawan grup Shanghai ke Taiwan yang menarik perhatian media, Tsai Jung-hsiang berpendapat jika hal ini terwujud, maka akan memberi dampak positif bagi ekonomi Taiwan. Ia menyarankan pemerintah menangani masalah ini berdasarkan prinsip timbal balik dan kesetaraan.
Setelah forum berakhir, yang menarik perhatian adalah penyelenggaraannya di tengah tekanan militer dan politik berkelanjutan dari Tiongkok. Menanggapi pernyataan Wakil Wali Kota Shanghai, Hua Yuan (華源) perihal "upaya jangka panjang Tiongkok untuk pembangunan perdamaian lintas selat", Profesor Ilmu Politik Universitas Chung Cheng, Tsai Jung-hsiang, mengatakan pernyataan tersebut sangat ironis dan merupakan bagian dari retorika "lunak" dalam strategi ganda Tiongkok.
"Di satu sisi mereka ingin pertukaran, tapi di sisi lain tetap melakukan latihan militer. Dari sudut pandang eksternal, ini menunjukkan mereka tidak benar-benar ingin pertukaran. Jika memang ingin pertukaran, mengapa masih mengirim pesawat dan kapal perang? Ini membuat Chiang Wan-an (蔣萬安) juga berada dalam posisi sulit," kata Tsai Jung-hsiang.
Tsai Jung-hsiang menganalisis bahwa Tiongkok tidak berani membuka akses terlalu luas sekaligus karena khawatir "keuntungan" akan dinikmati Partai Demokrat Progresif yang tidak mengakui Konsensus 1992.
"Jika membuka akses penuh ke Taiwan tanpa pengakuan Konsensus 1992, meski wisatawan Tiongkok ke Taiwan tetap mengikuti paket tur yang terkontrol, tetap akan menguntungkan ekonomi Taiwan," tambahnya.
Mengenai kemungkinan dibukanya akses wisatawan grup Shanghai ke Taiwan, Tsai Jung-hsiang menyatakan bahwa Taiwan dapat membalas dengan membuka akses wisata ke Shanghai. Jika pihak Tiongkok menerapkan pembatasan kuota, maka Taiwan juga bisa menerapkan pembatasan jumlah yang sama. Dengan kata lain, pemerintah harus memegang prinsip timbal balik dan kesetaraan.
Terkait kunjungan mantan Presiden Ma Ying-jeou (馬英九) yang memimpin rombongan siswa "Da Jiu Academy" ke Tiongkok, Tsai Jung-hsiang berpendapat bahwa kegiatan semacam ini biasanya diminta untuk menghindari topik-topik sensitif, serta menciptakan situasi pembatasan diri.
Jika tujuannya untuk membahas perbedaan antara kedua wilayah, Tsai Jung-hsiang memperkirakan pihak Tiongkok tidak akan berani membuka diskusi sepenuhnya. Ia menambahkan bahwa interaksi semacam itu kemungkinan besar sudah diatur dan dirancang sebelumnya.