(Taiwan, ROC) -- Taiwan sedang menghadapi masalah serius terkait penurunan jumlah populasi. Wakil Ketua Dewan Pembangunan Nasional (NDC) Taiwan Kao Shien-quey (高仙桂) mengatakan pada 11 Desember bahwa Taiwan akan segera menjadi negara dengan populasi lansia yang sangat tinggi. Karena jumlah kelahiran terus menurun, jumlah lansia akan meningkat pesat. Diperkirakan pada tahun 2070, 46,5% dari total populasi Taiwan akan berusia lanjut, menempati posisi kedua setelah Korea Selatan. Selain itu, jumlah penduduk usia produktif juga akan berkurang hingga tersisa 50% saja, sehingga akan berdampak buruk pada sektor ketenagakerjaan dan perekonomian Taiwan. Namun, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini.
Academia Sinica menyelenggarakan “Lokakarya Pemodelan Makroekonometrik 2024” (MMW2024) tahun ini dengan tema “Tantangan dan Peluang Ekonomi Masyarakat Lansia secara Keseluruhan”.
Kao Shien-quey diundang untuk memberikan ceramah mengenai “Mengubah Tantangan Penuaan Menjadi Peluang Transformasi” di Academia Sinica pada 11 Desember. Dia mengungkapkan, banyak negara dengan pendapatan tinggi mengalami penurunan jumlah penduduk. Perubahan struktur populasi akibat penuaan penduduk adalah sebuah “krisis yang tidak terlihat”, dan tidak ada yang bisa menghindarinya.
NDC telah merilis laporan populasi terbaru pada bulan Oktober, dan pemerintah saat ini sedang melakukan diskusi antar kementerian untuk mengusulkan tindakan penanggulangan pada bulan Februari tahun depan.
Kao Shien-quey menjelaskan bahwa penuaan struktur populasi akan berdampak pada berbagai aspek, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam aspek sosial, akan ada tekanan pada transformasi universitas, peningkatan beban perawatan jangka panjang, dan semakin banyaknya masyarakat yang hidup sendirian. Dalam aspek ekonomi, akan terjadi kekurangan tenaga kerja dalam negeri, persaingan perekrutan tenaga kerja asing, dan defisit anggaran. Sedangkan dalam aspek lingkungan, ketimpangan pembangunan wilayah akan menimbulkan tantangan dalam mencapai keseimbangan regional dan revitalisasi daerah.
Kao Shien-quey menyampaikan bahwa Taiwan akan memasuki masa masyarakat super-tua tahun depan, di mana proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas akan melebihi 20%. Ditambah dengan penurunan angka kelahiran, laju penuaan akan terus meningkat. Diperkirakan pada tahun 2070, proporsi penduduk lansia di Taiwan akan mencapai 46,5%, menempati posisi kedua setelah Korea Selatan (47,5%), dan lebih tinggi dibandingkan Jepang (38,7%), Italia (33,8%), Jerman (28,8%), dan Amerika Serikat (26,3%).
Pada tahun 2070, proporsi penduduk usia produktif di Taiwan diperkirakan akan turun di bawah 50%, yang merupakan tantangan besar bagi pasar tenaga kerja dan pertumbuhan industri. Perubahan struktur populasi ini akan menguji ketangguhan ekonomi dan stabilitas sosial. Namun, Kao Shien-quey optimis bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi solusi. Penelitian menunjukkan bahwa semakin siap pemerintah dalam mengadopsi AI, maka akan semakin besar dampak positifnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, AI dapat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan yang muncul akibat penuaan penduduk.
Kao Shien-quey berpendapat bahwa Taiwan berada di pusat revolusi AI, sehingga dapat memanfaatkan keunggulan industrinya untuk mengatasi tantangan penuaan penduduk dan penurunan populasi. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain dengan mendorong perusahaan untuk mengadopsi teknologi cerdas dan membantu industri bertransformasi ke arah AI, sehingga dapat membuka peluang pertumbuhan.