(Taiwan, ROC) --- Kesepakatan tahap pertama Inisiatif Perdagangan Abad ke-21 Taiwan AS mencakup 5 bidang termasuk administrasi bea cukai dan fasilitasi perdagangan, praktik regulasi yang baik, peraturan domestik sektor jasa, anti-korupsi, dan UKM, yang resmi berlaku pada 10 Desember 2024.
Sementara negosiasi tahap kedua yang sedang berlangsung berfokus pada isu-isu termasuk ekonomi non-pasar, BUMN, lingkungan, standar, tenaga kerja, pertanian, dan perdagangan digital.
Donald Trump akan kembali ke Gedung Putih pada Januari tahun depan, dan banyak pihak memperhatikan apakah negosiasi tahap kedua dapat dilanjutkan.
Menanggapi hal ini, Profesor Chiu Darson (邱達生) dari Departemen Ekonomi Universitas Tunghai dan Direktur Eksekutif Kamar Dagang dan Industri Asia Pasifik, serta Wu Da-ren (吳大任), Direktur Eksekutif Pusat Ekonomi Taiwan Universitas Nasional Chung Yang, menyatakan sikap tidak optimis mereka berdua.
Chiu Darson menunjukkan bahwa meskipun Inisiatif Perdagangan Abad ke-21 Taiwan AS membantu hubungan perdagangan kedua belah pihak, tetapi tidak bisa diharapkan jika setelah penandatanganan akan memiliki efek pengendalian atau pembatasan terhadap proteksionisme Trump 2.0 di masa depan, dan inisiatif pemerintah sebelumnya untuk menyelaraskan peraturan Taiwan-AS dan membangun lingkungan hukum mungkin tidak akan dilanjutkan oleh pemerintah AS yang baru.
Chiu Darson menyatakan bahwa isu utama yang menjadi perhatian Trump 2.0 adalah mengurangi defisit perdagangan AS. Meskipun negosiasi tahap kedua Inisiatif Perdagangan Abad ke-21 Taiwan AS dapat dilanjutkan, hal ini mungkin tidak menjadi prioritas bagi pemerintahan AS yang baru.
Lebih dari itu, dibandingkan dengan kelanjutan negosiasi tahap kedua, Taiwan harus lebih waspada karena surplus perdagangan dengan AS terus meningkat. Pada September kemarin, telah melampaui US$50 miliar dan diperkirakan bisa mencapai US$70 miliar untuk masa setahun penuh, yang mungkin akan menjadi target pengenaan tarif Trump 2.0 tahun depan.
Wu Da-ren mengatakan, "Ekspor Kanada ke AS tahun lalu mencapai lebih dari US$400 miliar, mendekati Tiongkok, karena ekspor Tiongkok ke AS perlahan menurun sejak perang dagang. Kanada memiliki surplus sebesar lebih dari US$70 miliar. Jadi jika kita sekarang (Januari-November) mengekspor lebih dari US$100 miliar ke AS, dengan surplus yang hampir sama dengan Kanada, dan Kanada sebagai tetangga AS saja dikenakan tarif tinggi, saya rasa Taiwan juga akan sulit menghindarinya."
Wu Da-ren menekankan, jika Taiwan menjadi target pengenaan tarif Donald Trump, maka hal ini bisa menyebabkan rantai pasokan semikonduktor berpindah ke AS, yang pasti akan mempengaruhi ekspor Taiwan. Pemerintah perlu mencari cara untuk berkomunikasi dengan pihak AS mengenai hal ini.