(Taiwan, ROC) -- Kasus perlakuan tidak pantas dan kekerasan dalam olahraga di kelas olahraga sekolah dan tim perwakilan olahraga terus bermunculan. Yayasan Pendidikan Humanistik (HEF) bersama anggota legislatif hari ini (11 Desember) menggelar konferensi pers untuk mempertanyakan rencana pembentukan "Kementerian Olahraga" yang tampaknya tidak menunjukkan kebijakan jelas terkait kekerasan dalam pelatihan olahraga, mekanisme pemberhentian pelatih yang tidak memenuhi standar, atau kebijakan terkait pelatihan olahraga untuk anak-anak dan remaja. Mereka mendesak Yuan Eksekutif segera menyusun kebijakan terkait untuk melindungi anak-anak dan remaja.
HEF bersama legislator dari Partai Progresif Demokratik (DPP) Ariel Chang (張雅琳) dan Chen Pei-yu (陳培瑜), serta siswa yang menjadi korban bersama orang tua mereka, mengadakan konferensi pers hari ini. Mereka mengungkap kasus mantan pelatih basket Liu (劉) di Sekolah Menengah Kejuruan Swasta Nanying di Tainan pada tahun 2023, yang menyiksa dan menghukum siswa secara fisik dalam jangka panjang, bahkan menyebabkan patah lutut dan kerusakan pendengaran pada siswa. Namun, pelatih tersebut bersikeras bahwa "semua ini adalah bagian dari latihan”.
Selain itu, ada kasus terkait mantan pelatih utama tim baseball di Sekolah Menengah Pertama Ching-Hsi Taoyuan pada 2019 yang secara rutin memberikan hukuman fisik kepada siswa dan membiarkan pelatih luar melakukan pelecehan seksual terhadap siswa. Setelah mendapat sanksi dari Yuan Kontrol, pelatih tersebut awalnya dipecat seumur hidup, tetapi akibat kesalahan penggunaan pasal hukum dalam alasan pemecatan, pelatih tersebut mengajukan banding dan hukumannya dikurangi menjadi hanya pemecatan selama dua tahun. Kekerasan dan perlakuan tidak pantas dalam pelatihan olahraga ini semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Siswa yang menjadi korban dan orang tua mereka juga angkat bicara, dan mengungkapkan bahwa mereka bergabung dengan tim basket sekolah, tetapi justru dihina oleh pelatih karena tidak bisa mengikuti perkembangan tim. Korban dihukum untuk berlutut selama tiga hari tanpa tidur, matanya ditutup, dan mulutnya disumpal kaus kaki. Orang tua korban dengan marah menyampaikan harapannya agar pelatih yang melakukan kekerasan menerima hukuman yang setimpal dan meminta Kementerian Pendidikan melindungi semua siswa dari perundungan.
Legislator DPP Chen Pei-yu mengkritik bahwa di dunia olahraga, alasan "pelatihan" dan "mengejar medali" sering digunakan untuk membenarkan perlakuan tidak pantas. Ia menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh dijadikan alat untuk mencetak medali. Saat ini, terkait rancangan undang-undang pembentukan Kementerian Olahraga, diskusi mengenai kelas olahraga belum mencapai kesimpulan apakah akan menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan atau Kementerian Olahraga.
Chen mengkhawatirkan, jika tanggung jawab dialihkan ke Kementerian Olahraga, masalah hak pendidikan siswa akibat kegiatan olahraga mungkin tidak akan ditangani oleh Kementerian Pendidikan. Namun, jika tetap berada di bawah Kementerian Pendidikan, apakah masalah yang selama ini tidak diselesaikan akan tetap diabaikan? Oleh karena itu, Chen dengan tegas meminta Yuan Eksekutif untuk segera menangani masalah terkait kelas olahraga dengan baik.