(Taiwan, ROC) --- Wabah penyakit erythema infectiosum telah merebak di wilayah Kanto, Jepang. Dokter Lee Ping-ying (李秉穎) dari Departemen Penyakit Infeksi Anak Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan menunjukkan bahwa Taiwan juga mengalami kasus sporadis, dengan tiga kelompok yang memiliki risiko tinggi setelah terinfeksi, terutama wanita hamil, penderita anemia kronis, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.
Di antaranya, infeksi pada trimester pertama kehamilan dapat menyebabkan cacat janin.
Erythema infectiosum disebabkan oleh Parvovirus B19 dan ditularkan melalui droplet, terutama menyerang anak-anak. Saat ini, wilayah Kanto termasuk Tokyo, Chiba, Saitama, dan Kanagawa telah mencapai tingkat peringatan wabah, dengan jumlah pasien di beberapa daerah mencapai rekor tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yang menimbulkan kekhawatiran.
Di Taiwan, Wakil Direktur Taiwan Centers for Disease Control (CDC), Tseng Shu-hui (曾淑慧), menyatakan bahwa karena gejala erythema infectiosum ringan, penyakit ini tidak termasuk dalam daftar penyakit menular wajib lapor, tetapi tetap dipantau melalui dokter, pengawasan unit gawat darurat, dan pemantauan laboratorium.

Dokter Lee Ping-ying (李秉穎) menunjukkan bahwa Taiwan juga mengalami kasus sporadis, dengan tiga kelompok yang memiliki risiko tinggi setelah terinfeksi. 圖/LINETODAY
Dokter Lee Ping-ying menyatakan penyakit ini sebagian besar mempengaruhi remaja dan umum terjadi di sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas. Penyakit ini bersifat jinak, dengan demam yang tidak parah, tidak memerlukan obat antivirus atau perawatan khusus, dan sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala.
Penyakit erythema infectiosum terutama berdampak pada beberapa pihak di bawah ini. Pertama, bagi ibu hamil, terutama jika terinfeksi pada trimester pertama kehamilan, yang terkadang dapat menyebabkan kelainan janin.
Kedua, bagi penderita anemia kronis, karena virus dapat merusak sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang. Pada penderita anemia, infeksi virus dapat memperparah kondisi, kadang menyebabkan syok bahkan kematian.
Ketiga, bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS. Karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak dapat menghilangkan virus, infeksi dapat berkembang menjadi kronis. Virus terus menekan sel-sel sumsum tulang, yang mengakibatkan anemia kronis.
Mengenai cara pencegahan, Dokter Lee Ping-ying menjelaskan bahwa seperti penyakit pernapasan menular lainnya, sering mencuci tangan, menghindari tempat ramai, dan mengenakan masker bila diperlukan.
Selain itu, kelompok berisiko juga harus melakukan perlindungan diri yang baik, dan tidak perlu sampai menghindari perjalanan ke Jepang hanya dikarenakan alasan ini.