(Taiwan, ROC) -- Pada Senin kemarin (9/12), militer Tiongkok mengumumkan pembentukan tujuh zona udara terlarang di sepanjang pesisir timur, dengan kapal-kapal dari Komando Wilayah Timur, Utara, dan Selatan secara berturut-turut memasuki area sekitar Selat Taiwan dan wilayah Pasifik Barat, menunjukkan aktivitas militer yang jelas meskipun tanpa pengumuman latihan militer. Menanggapi hal di atas, Kementerian Pertahanan Nasional (MND) menyatakan, terlepas apakah pihak seberang akan mengumumkan latihan militer atau tidak, pihaknya tetap memiliki tanggung jawab penuh.
Menanggapi perkembangan militer terbaru dari Tentara Pembebasan Rakyat (TPR), MND menjelaskan bahwa 7 zona udara terlarang yang ditetapkan Tiongkok kali ini mencakup area dari selatan Shanghai hingga lepas pantai Fujian, memanjang ke sebelah barat garis tengah Selat Taiwan, dengan total panjang sekitar 1.000 kilometer. 7 zona bersangkutan juga terkesan sengaja menghindari jalur penerbangan internasional. Selain itu, area aktivitas kapal tidak hanya di sekitar Taiwan tetapi bahkan meluas ke area rangkaian pulau pertama dengan kedua, dengan cakupan dan skala yang jauh melampaui sebelumnya.
MND menyatakan bahwa meskipun Tiongkok belum mengumumkan ini sebagai latihan militer dan hanya berstatus latihan tanpa aktivitas tembak amunisi tajam, tetapi tindakan militer aktualnya telah mencapai skala latihan militer, dengan kapal-kapal angkatan lautnya bahkan telah membentuk kekuatan pencegahan terhadap militer asing di Pasifik Barat. Oleh karena itu, terlepas apakah pemerintah Beijing akan mengumumkan latihan militer atau tidak, MND tetap memiliki tanggung jawab penuh.
Wakil Direktur Biro Intelijen Hsieh Jih-sheng (謝日升) mengatakan, "Dalam kondisi latihan normal, mereka (TPR) dapat mengerahkan kekuatan dalam skala besar seperti ini untuk melakukan 'latihan' di area yang begitu luas, yang perlu kita perhatikan bukan hanya potensi eskalasi dari latihan ke pertempuran, tetapi juga dampak dan pengaruh yang mungkin ditimbulkan terhadap negara-negara sekitar." MND juga menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi kemungkinan TPR meningkatkan status dari latihan menjadi pertempuran, militer Taiwan telah segera mengaktifkan latihan kesiapsiagaan.
Kepala Divisi Operasi Gabungan, Tung Chi-hsing (董冀星) menyampaikan, "Pembentukan pusat tanggap darurat saat ini, serta pengerahan pasukan siaga, semuanya dilaksanakan sesuai dengan 'Ketentuan Penanganan Situasi Darurat pada Masa Kesiapsiagaan Normal' dan peraturan kesiapsiagaan. Kami telah memerintahkan latihan kesiapsiagaan segera, terutama berfokus pada pelatihan, melakukan latihan taktis yang realistis dan di lapangan sesuai dengan ancaman situasi musuh."
MND menekankan bahwa meskipun skala dan metode aktivitas militer TPR kali ini memang berbeda dari sebelumnya, tetapi sejak tahun 2022 ancaman TPR terhadap Taiwan terus berubah, dan militer Taiwan juga harus merespons secara fleksibel. Mereka akan bertindak berdasarkan indikasi situasi musuh dan mempersiapkan diri untuk skenario terburuk. Terlepas dari apakah Beijing akan mengumumkan latihan militer atau tidak, militer Taiwan tetap memiliki tanggung jawab penuh dan memiliki kepercayaan diri serta kemampuan untuk menghadapinya.