(Taiwan, ROC) --- Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyatakan bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Menurut statistik ketenagakerjaan internasional yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan (MOL), total jam kerja Taiwan pada tahun 2023 mencapai 2.020 jam, tertinggi kedua di Asia setelah Singapura.
Di seluruh negeri, lebih dari 250.000 orang bekerja melebihi 60 jam per minggu, menunjukkan Taiwan telah jatuh ke dalam kondisi "kelelahan ekstrem".
Sun Yu-lien (孫友聯), Sekretaris Jenderal Taiwan Labour Front, mengatakan bahwa total jam kerja dasar pekerja penuh waktu di Taiwan sudah mencapai sekitar 2.000 jam per tahun. Para pekerja sering memilih lembur karena upah rendah. Menurutnya, selain kebijakan jam kerja, masalah upah juga perlu dibahas.
Dai Guo-rong (戴國榮), Ketua Federasi Serikat Pekerja Industri Nasional, berpendapat bahwa upah rendah yang umum di Taiwan menyebabkan pekerja harus lembur untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi. Upah rendah juga menyebabkan kekurangan tenaga kerja, di mana pengusaha kesulitan mencari pekerja. Untuk mengatasi masalah jam kerja yang berlebihan, struktur upah juga perlu ditinjau kembali.
Dai Guo-rong menekankan bahwa MOL harus memiliki kebijakan yang lebih aktif untuk mengurangi jam kerja, termasuk mendorong perusahaan untuk mencoba sistem tiga hari libur per minggu, menambah hari libur nasional, dan meninjau kembali industri yang menerapkan Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan Pasal 84-1 (sistem tanggung jawab).
Menurut statistik, pekerja yang mengalami "kelelahan ekstrem" paling banyak ditemukan di sektor perdagangan grosir dan eceran dengan 60.000 orang, sektor akomodasi dan jasa makanan 40.000 orang, sektor jasa lainnya 31.000 orang, dan sektor jasa pendukung 29.000 orang.
Huang Yi-ling (黃怡翎), Direktur Eksekutif Taiwan Occupational Safety and Health Link, menyatakan bahwa bekerja 60 jam per minggu berarti bekerja 12 jam per hari dan bahkan harus bekerja di hari libur, yang sudah jauh melampaui beban kerja normal. Dia menekankan bahwa perusahaan tidak seharusnya mengorbankan kesehatan pekerja demi layanan.
Huang Wei-chen (黃維琛), Direktur Departemen Kondisi Kerja dan Kesetaraan Kerja MOL, menjelaskan bahwa tingginya total jam kerja tahunan Taiwan disebabkan oleh rendahnya proporsi pekerja paruh waktu dibandingkan negara lain.
Di negara-negara utama lainnya seperti Jepang, proporsi pekerja paruh waktu mencapai 25% atau lebih, yang menyebabkan total jam kerja tahunan Taiwan lebih tinggi dibandingkan negara lain.