(Taiwan, ROC) --- Hasil "Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2023" yang diumumkan pada Rabu kemarin (4/12), memperlihatkan prestasi membanggakan siswa Taiwan.
Di antara 58 negara peserta, siswa Taiwan berhasil meraih peringkat 2 dunia untuk matematika di tingkat kelas 4 dan 8.
Sementara untuk bidang sains, pelajar Taiwan meraih peringkat 3 untuk kelas 4 dan peringkat 2 untuk kelas 8, mencatatkan hasil terbaik sepanjang sejarah keikutsertaan Taiwan.
TIMSS sendiri telah diselenggarakan sejak 1995 dan diadakan setiap 4 tahun sekali, mengevaluasi kemampuan matematika dan sains siswa kelas 4 dan 8. Ini merupakan partisipasi ketujuh Taiwan sejak 1999, dengan total 58 negara berpartisipasi untuk tingkat kelas 4, dan 44 negara untuk tingkat kelas 8.
Kementerian Pendidikan Taiwan menyatakan, meskipun pembelajaran tatap muka sempat terdampak pandemi COVID-19, tetapi siswa Taiwan tetap menunjukkan prestasi cemerlang.
Dibandingkan TIMSS 2019, siswa kelas 4 Taiwan menunjukkan peningkatan dalam matematika dan sains, khususnya peningkatan 15 poin dalam sains yang mengantarkan mereka dari peringkat 4 ke peringkat 2.
Untuk tingkat kelas 8, prestasi sains mereka tetap mempertahankan standar tinggi dengan persentase siswa berprestasi unggul tertinggi sepanjang sejarah keikutsertaan mereka.
Namun, survei juga mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan diri siswa Taiwan dalam matematika dan sains masih tertinggal dari standar internasional, yang menjadi catatan untuk perbaikan ke depan.

TIMSS 2023 kali ini secara khusus memasukkan penilaian kesadaran lingkungan. Kementerian Pendidikan melaporkan bahwa siswa Taiwan juga menunjukkan prestasi membanggakan dalam aspek ini.
Siswa kelas 4 meraih skor 566 poin (peringkat 3 dunia) dan kelas 8 meraih 553 poin (peringkat 2 dunia) untuk pengetahuan lingkungan. Skor ini jauh di atas rata-rata internasional, membuktikan tingginya kesadaran lingkungan di kalangan siswa Taiwan.
Dokter Lee Che-di (李哲迪), Wakil Peneliti di Pusat Penelitian Pendidikan Sains National Taiwan Normal University yang juga bertindak sebagai ketua proyek, menjelaskan bahwa hasil survei selama ini menunjukkan adanya masalah keterasingan belajar pada siswa. Mereka cenderung kurang berminat, tidak percaya diri, atau merasa pembelajaran kurang bernilai.
Menurutnya, fenomena serupa juga terjadi di negara-negara Asia Timur lainnya seperti Korea Selatan dan Jepang, dengan Singapura sebagai pengecualian.
Selain faktor budaya, hal ini juga disebabkan oleh peningkatan tingkat kesulitan materi dari kelas 4 ke kelas 8, yang mengharuskan guru menyesuaikan metode pengajaran mereka.
Ditambah lagi, siswa kelas 8 menghadapi tekanan ujian nasional, yang secara alami dapat menurunkan minat belajar dan kepercayaan diri mereka.