(Taiwan, ROC) --- Tingkat perceraian Taiwan tidak hanya menduduki peringkat kedua tertinggi di Asia, bahkan perceraian dalam lima tahun pertama pernikahan mencapai rekor baru.
Psikiater menganalisis bahwa ini karena mudah untuk jatuh cinta, tapi sulit untuk hidup bersama, karena banyak konflik yang muncul setelah tinggal bersama.
Dan belakangan ini semakin banyak pasangan yang sampai harus menyambangi pengadilan untuk mengurusi perceraian mereka.
Menurut statistik Kementerian Dalam Negeri (MOI), jumlah pasangan yang bercerai di Taiwan pada tahun 2023 mencapai 53.071 pasangan. Rata-rata setiap 9,9 menit ada satu pasangan yang mengakhiri pernikahan mereka.
MOI juga menemukan bahwa perceraian dalam 5 tahun pertama pernikahan mencapai 34%, mencatatkan rekor tertinggi, dan tingkat perceraian Taiwan menduduki peringkat kedua tertinggi di Asia.
Dokter Chen Chang-sheng (陳長聖) dari Departemen Psikiatri Rumah Sakit Taiwan Adventist mengatakan, "Tidak lain adalah masalah hubungan, seperti pembagian tugas rumah tangga, masalah ekonomi yang agak berat, juga masalah pengasuhan anak. Belum lagi dengan persoalan hubungan dengan generasi sebelumnya. Kita sering membicarakan masalah menantu perempuan dan mertua, tapi tidak hanya itu, sekarang mungkin suami juga memiliki masalah hubungan dengan mertua, ini adalah tema yang sering kami dengar."
Generasi tua mungkin memiliki pandangan yang kaku tentang perceraian dan menganggapnya bukan hal yang sepele. Namun, sikap masyarakat modern saat ini lebih terbuka terhadap suatu hubungan, membuat perceraian seolah menjadi hal yang biasa.