(Taiwan, ROC) -- Setelah “Catatan Perjalanan Taiwan (臺灣漫遊錄)” karya dari penulis Taiwan Yang Shuang-zi (楊双子) setelah diterbitkan dalam terjemahan bahasa Jepang berjudul “Chizuko & Chizuru’s Taiwan Travelogue (台灣漫遊鐵道的兩人)” pada Mei lalu mendapat penghargaan dari Jepang. Karya sastra Taiwan ini kembali mendapat kehormatan kali ini kembali memenangkan “American National Book Award pada Rabu (20/11).
“Catatan Perjalanan Taiwan (臺灣漫遊錄)” mendeskripsikan dua perempuan yang satu dari Jepang dan satunya lagi dari Taiwan, kedua perempuan ini tumbuh besar dalam lingkungan budaya dan pendidikan yang berbeda di era pendudukan Jepang. Keduanya tanpa disengaja bertemu dalam suatu perjalanan wisata kuliner kereta api. Toko Buku Independen Washington memberikan resensi bahwa buku ini tidak saja sebuah perjalanan pesta kuliner, melainkan adalah isi hati perempuan yang mendalam dari kedua perempuan pada sebuah perjalanan yang tak terlupakan.
Penulis Yang Shuang-zi adalah sepasang kakak beradik kembar perempuan dengan nama pena Yang Ruo-tzu (楊若慈) dan Yang Ruo-hui (楊若暉). Yang Ruo-tzu sebagai kakak bertugas utama penciptaan karya, adiknya Yang Ruo-hui sebagai pencari sejarah dan penerjemahan dalam bahasa Jepang,
“Catatan Perjalanan Taiwan” versi bahasa Jepang “Chizuko & Chizuru’s Taiwan Travelogue” pada Mei tahun ini mendapat penghargaan penerjemahan Jepang ke-10, merupakan karya sastra Taiwan pertama yang mendapat penghargaan penerjemahan Jepang.
Berikut pidato lengkap Yang Shuang-zi (楊双子):
“Beberapa orang bertanya kepada saya, mengapa menulis tentang hal-hal yang terjadi 100 tahun yang lalu? Saya selalu menjawab, menulis tentang masa lalu adalah untuk melangkah menuju masa depan.
100 tahun yang lalu ada orang Taiwan yang berkata “Taiwan adalah milik orang Taiwan”, 100 tahun kemudian, orang Taiwan dewasa ini juga mengatakan hal yang sama, tetapi lawan bicara kita berbeda.
100 tahun yang lalu, kita mengatakan itu kepada orang Jepang. Hari ini di 100 tahun kemudian, kita mengatakan itu kepada orang Negeri Tirai Bambu. Selama 100 tahun ini satu hal yang tidak berubah adalah kita terus menghadapi negara yang besar, kuat, dan agresif di sekitar kita. Pada saat bersamaan, identitas negara dan identitas kelompok etnis di antara orang Taiwan sendiri juga sangat beragam. Saat ini ada sebagian orang yang menganggap diri mereka adalah orang Negeri Tirai Bambu, seperti halnya 100 tahun yang lalu ada sebagian orang Taiwan yang merasa mereka adalah orang Jepang.
Saya menulis untuk menjawab pertanyaan tentang siapa sebenarnya orang Taiwan. Dan dengan terus menulis tentang masa lalu, saya berharap bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Terima kasih.”