History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Jumlah Bayi Prematur di Taiwan Meningkat, Dokter Ungkap Penyebab dan Solusinya

  • 18 November, 2024
  • 尤繼富
Jumlah Bayi Prematur di Taiwan Meningkat, Dokter Ungkap Penyebab dan Solusinya
Jumlah Bayi Prematur di Taiwan Meningkat, Dokter Ungkap Penyebab dan Solusinya 圖/YAHOOTAIWAN

(Taiwan, ROC) --- Jumlah bayi baru lahir di Taiwan terus menurun setiap tahunnya, tetapi ironisnya, angka kelahiran prematur justru meningkat. Dokter menduga bahwa tren menikah dan memiliki anak di usia lanjut menjadi penyebab utamanya.

Selain mendorong pasangan untuk memiliki anak di usia produktif, beberapa faktor lain perlu dikaji lebih lanjut, seperti rendahnya frekuensi pemeriksaan kehamilan pada trimester kedua dan ketiga di Taiwan, serta terbatasnya penggunaan obat penguat kandungan yang minim efek samping.

Setiap tanggal 17 November diperingati sebagai Hari Prematur Sedunia. Data dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan di Taiwan (MOHW) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa 1 dari 12 bayi baru lahir di Taiwan terlahir prematur.

Pada Hari Prematur Sedunia tahun 2024 ini, angkanya meningkat menjadi 1 dari 10 bayi baru lahir, yang berarti sekitar 13.000 bayi lahir prematur setiap tahunnya. Angka ini bahkan dikhawatirkan akan terus meningkat.

Dokter Zhan De-fu (詹德富), Ketua Asosiasi Kedokteran Perinatal Taiwan, menyampaikan bahwa pernikahan dan kehamilan di usia lanjut adalah faktor utama di balik fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa wanita yang hamil di usia lanjut lebih rentan terhadap penyakit kronis. Penyakit-penyakit inilah yang terkadang memaksa persalinan lebih awal demi keselamatan ibu dan bayi.

Faktor lain yang turut menyumbang adalah meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi seperti bayi tabung, yang didukung oleh subsidi pemerintah bagi pasangan yang kesulitan memiliki anak. 

Tingginya angka kelahiran kembar dari program bayi tabung juga meningkatkan risiko kelahiran prematur. Oleh karena itu, Zhan De-fu mengimbau pasangan yang ingin memiliki anak untuk tidak menunda program kehamilan agar angka kelahiran prematur dapat ditekan.

Zhan De-fu menyarankan agar pemerintah dapat memulai dengan "menyesuaikan frekuensi pemeriksaan kehamilan". Periode kehamilan minggu ke-24 hingga 28 adalah masa-masa rentan terhadap kelahiran prematur. Namun, frekuensi pemeriksaan kehamilan yang berlaku saat ini hanya 1 kali sebulan.

Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk meningkatkan frekuensi pemeriksaan pada periode tersebut, terutama bagi ibu hamil dengan risiko tinggi melahirkan prematur. Deteksi dini terhadap kondisi ibu hamil yang tidak normal memungkinkan penanganan dan perawatan di rumah sakit lebih awal, sehingga dapat mencegah kelahiran prematur.

Selain itu, Zhan De-fu juga menyoroti pentingnya "penyesuaian penggunaan obat penguat kandungan". Ia menjelaskan bahwa sudah tersedia obat penguat kandungan dengan efek samping yang lebih rendah di pasaran. Sayangnya, penggunaan obat-obatan tersebut di Taiwan masih terkendala biaya yang tinggi, serta batasan dalam hal siapa yang boleh menggunakan dan berapa kali penggunaannya.

Zhan De-fu mendorong agar penggunaan obat penguat kandungan dengan efek samping rendah ini dapat lebih selaras dengan standar internasional, sehingga lebih mudah diakses oleh ibu hamil dengan risiko tinggi melahirkan prematur.

Wu Chao-chun (吳昭軍) Kepala Badan Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, menegaskan bahwa menjaga kesehatan dan tumbuh kembang bayi prematur adalah tugas penting. Pihaknya telah bekerja sama dengan rumah sakit di seluruh Taiwan untuk menjalankan program perawatan di rumah.

Program ini meliputi asesmen menyeluruh sebelum bayi prematur diperbolehkan pulang, penyediaan layanan perawatan di rumah, kunjungan rumah, dan konsultasi melalui hotline.

Dengan demikian, layanan dari tim medis profesional dapat menjangkau hingga ke rumah, memberikan pendampingan berkelanjutan hingga bayi prematur berusia 2 tahun.

Salah satu contoh kasus adalah bayi prematur bernama Xiao Xiang, yang dijuluki "peri kecil" karena beratnya hanya 920 gram saat lahir. Ia dan saudara kembarnya lahir prematur di usia kehamilan 27 minggu. Dua minggu setelah kelahirannya, Xiao Xiang didiagnosis mengalami pembesaran ventrikel otak dan leukomalasia periventrikular.  

Setelah diperbolehkan pulang, Xiao Xiang tetap mendapatkan pendampingan dari perawat dari Changhua Christian Hospital melalui kunjungan rumah dan hotline konsultasi.

Perawat tidak hanya menjawab pertanyaan orang tua Xiao Xiang seputar perawatan, tetapi juga jeli dalam mengamati kondisi Xiao Xiang. Ketika Xiao Xiang belum bisa berguling di usia 4 bulan, perawat segera menghubungkannya dengan program terapi dan rehabilitasi.

Komentar

Terbarumore