(Taiwan, ROC) --- HsinChu Transportation, perusahaan yang telah berdiri lebih dari seratus tahun, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan operasional rute bus di wilayah Kota dan Kabupaten Hsinchu.
Menurut laporan dari media China Times, Kepala Dinas Pariwisata dan Transportasi Kabupaten Hsinchu, Chen Ying-zhou (陳盈州), menyatakan bahwa pandemi telah berdampak besar pada tingkat penumpang yang menurun drastis, mengakibatkan kerugian jangka panjang bagi operator, sehingga mereka memilih untuk tidak melanjutkan operasional.
HsinChu Transportation, yang sebelumnya dikenal sebagai台灣軌道株式會社 (baca: táiwān guǐdào zhūshì huìshè), didirikan pada tahun 1919 dan berganti nama menjadi HsinChu Transportation pada tahun 1946.
Mereka pernah mengoperasikan rute bus di Taipei, Taoyuan, Hsinchu, dan Miaoli. Namun, pada Januari tahun ini mereka sudah keluar dari kawasan Taoyuan, pada September keluar dari Miaoli, dan sekarang mengumumkan penghentian operasional di Kota dan Kabupaten Hsinchu.
Untuk mengatasi masalah transportasi, Kabupaten Hsinchu akan mengubah 14 rute menjadi rute yang lebih kecil, dan menyerahkan 36 rute lintas wilayah kepada perusahaan lain, yakni JCHA dan YIJET BUS.
Namun, kedua perusahaan baru ini menghadapi masalah kekurangan pengemudi, bahkan menawarkan gaji tinggi sebesar NT$92 ribu untuk merekrut karyawan.
Menanggapi hal di atas, Chen Ying-zhou menyatakan bahwa kekurangan pengemudi adalah masalah nasional yang memerlukan bantuan dari pemerintah pusat untuk diselesaikan.

Ilustrasi pengemudi bus di Taiwan. 圖/UDN
Bisakah Perusahaan Bus di Taiwan Bertahan?
Beberapa operator menyatakan bahwa meskipun mereka telah menawarkan gaji yang sangat tinggi, tetapi banyak anak muda lebih memilih untuk menjadi pengemudi taksi online atau bekerja di bidang logistik. Penyebab utama kekurangan tenaga kerja adalah lingkungan sosial yang tidak ramah terhadap pengemudi bus, serta tekanan psikologis dari banyaknya keluhan penumpang, yang menyebabkan semakin sedikit orang yang tertarik untuk menjadi pengemudi bus.
Selain masalah kelahiran yang rendah, status sosial dan ekonomi pengemudi bus yang tidak tinggi, serta persepsi umum bahwa pekerjaan ini berat, menyebabkan kurangnya minat terhadap industri ini, sehingga menimbulkan masalah kekurangan tenaga kerja yang parah.
Pihak operator menyatakan bahwa pengemudi bus yang bergabung pada usia 20-an bisa mendapatkan gaji bulanan hingga NT$80 ribu atau bahkan NT$90 ribu. Namun sayangnya, perusahaan tetap sulit untuk merekrut karyawan.
Untuk mengatasi kekurangan pengemudi, Biro Transportasi Darat telah melonggarkan batas usia untuk pemegang SIM profesional kendaraan besar, serta memperpanjang batas usia pengemudi bus besar dari 65 tahun menjadi 68 tahun.
Pihak biro juga telah meminta Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) untuk mempertimbangkan penerimaan pekerja migran. Sebelumnya pihak MOL sudah menyetujui perekrutan pengemudi bus bagi warga asing yang pernah mengemban status pelajar Tionghoa Perantauan atau pelajar asing. MOL sendiri akan kembali mengajukan kepada pihak Komite Pembangunan Nasional untuk diskusi dan revisi regulasi terkait.