(Taiwan, ROC) --- Perang Rusia-Ukraina terus berlanjut. Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA) mengonfirmasi kematian seorang sukarelawan Taiwan di garis depan pada Minggu kemarin (3/11). Ia diidentifikasi sebagai Wu Chung-ta (吳忠達) , seorang veteran pasukan khusus Angkatan Darat, yang tewas akibat tembakan artileri berat di medan perang Ukraina timur. Ia menjadi sukarelawan Taiwan kedua yang gugur dalam perang Rusia-Ukraina, setelah Tseng Sheng-guang (曾聖光), seorang pemuda dari Hualien.
Pada Senin hari ini (4/11), anggota legislator dari Partai Progresif Demokratik (DPP), Puma Shen (沈伯洋), mengatakan bahwa saat ini diperkirakan masih ada 5 hingga 6 sukarelawan Taiwan yang bertempur di garis depan perang Rusia-Ukraina. Sebagian besar dari mereka sangat tidak puas dengan agresi Rusia di Ukraina.
Legislator Partai DPP lainnya, Wang Ting-yu (王定宇), juga mengatakan ia percaya sebagian besar sukarelawan yang pergi untuk membantu Ukraina memahami bahwa jika mereka tidak membantu negara-negara yang lebih lemah, bagaimana Taiwan dapat mengharapkan bantuan internasional ketika menghadapi ancaman di masa depan.
Di lain pihak, MOFA juga mengonfirmasi informasi ini dan membantu keluarga dalam menangani masalah-masalah terkait.
Puma Shen mengutarakan saat ini diperkirakan masih ada 5 atau 6 sukarelawan Taiwan yang bertempur di garis depan perang Rusia-Ukraina. Selain itu, jenazah Wu Chung-ta masih berada di medan perang dan sulit untuk dievakuasi. Biasanya diperlukan waktu 2 hingga 3 minggu. MOFA juga akan membantu keluarga untuk pergi ke Ukraina guna menangani masalah-masalah selanjutnya.
Puma Shen mengatakan, "Saat ini masih belum jelas, bahkan militer pun tidak tahu pasti. Meskipun ada beberapa teman di sekitarnya pada saat itu atau diceritakan kembali oleh orang-orang di sekitarnya, tidak dapat dipastikan apakah cerita tersebut benar. Perang selalu berubah, jadi tidak ada kepastian. Kita mungkin harus menunggu sampai jenazahnya dievakuasi untuk mengetahui situasi terakhirnya. Penyebab kematiannya masih belum diketahui."
Wang Ting-yu juga menyebutkan bahwa perang Rusia-Ukraina jelas merupakan kasus penindasan negara adidaya terhadap negara yang relatif lebih lemah. Ada banyak orang di seluruh dunia yang pernah bertugas di militer negara mereka sendiri, termasuk dari Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, yang dengan antusias membantu Ukraina demi mendapatkan keadilan.
Wang Ting-yu mengatakan, "Saya percaya orang-orang yang pergi untuk membantu Ukraina ini menyadari bahwa jika kita tidak membantu negara-negara lemah ini hari ini, bagaimana dunia internasional dapat membantu kita ketika Taiwan menghadapi ancaman di masa depan? Kita dapat menyebutnya sebagai semangat kesatria atau nilai-nilai universal bersama."
Legislator dari Partai Kuomintang (KMT), Lin Yi-chun (林憶君), juga menyebutkan bahwa pasukan sukarelawan internasional telah memainkan peran penting di Ukraina, baik dalam unit tempur maupun non-tempur. Faktanya, banyak negara maju juga memiliki kasus orang asing yang bergabung dengan militer mereka. Oleh karena itu, Taiwan mungkin dapat mempertimbangkan kemungkinan untuk mengizinkan orang asing bergabung dengan militernya.