(Taiwan, ROC) --- Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, para pejabat keamanan nasional menunjukkan bahwa manipulasi narasi kognitif Tiongkok baru-baru ini akan berfokus pada "pertaruhan".
Mereka lebih lanjut menunjukkan bahwa otoritas Taiwan belum memahami tren dan perkembangan, maka Taiwan akan diperlakukan sebagai "pion yang ditinggalkan". Tiongkok akan memanipulasi berbagai "konsekuensi" setelah pemilihan AS dan Jepang. Selain itu, situasi politik dan ekonomi global juga menghadapi empat tantangan utama, yakni aliansi CRINK yang semakin bersatu, kelebihan produksi Tiongkok, kegagalan kebijakan kontra-pasar, dan tidak berkurangnya intimidasi militer di kawasan Indo-Pasifik.
Empat Tantangan Utama yang Dihadapi Situasi Politik dan Ekonomi Global
Dengan akan datangnya pemilihan pemimpin Partai Demokrat Liberal dan pemilihan parlemen di Jepang, serta pemilu AS, maka unit keamanan nasional menganalisis situasi yang ada saat ini. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa beberapa negara utama telah mengalami perubahan rezim dalam beberapa bulan terakhir, dan semuanya sudah membiasakan diri dengan lingkungan dan perubahan baru, sebut saja Inggris dan Prancis di Eropa.
Di lain pihak, Beijing dapat terlihat mencoba untuk melewati Uni Eropa dan secara individual memanipulasi pembentukan pemerintahan baru ini. Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina dan konflik Timur Tengah masih berlangsung. Masih harus dilihat apakah serangan Israel di daratan Iran akan memicu konsekuensi lebih lanjut.
Para pejabat keamanan nasional menganalisis bahwa situasi politik dan ekonomi global saat ini menghadapi empat tantangan utama. Pertama, Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara menjadi lebih bersatu, dan ini menjadi semakin jelas. Persatuan ini, yang dikenal sebagai "CRINK", sampai batas tertentu akan memperpanjang atau memperburuk konflik regional, termasuk memberi Rusia lebih banyak ruang untuk melakukan agresinya.
Kedua, secara ekonomi, karena Tiongkok tidak dapat mendorong permintaan domestik, maka kelebihan produksinya akan berdampak pada pasar global dalam berbagai bentuk. Selain industri petrokimia dan baja, ini termasuk festival belanja "Double 11" yang akan datang.
Karena penurunan penjualan yang cepat dalam beberapa tahun terakhir, membuat platform e-commerce seperti Taobao, Shein, dan Temu baru-baru ini menyubsidi pengiriman luar negeri, yang mengakibatkan bentuk persaingan tidak sehat. Hal ini menimbulkan ancaman yang cukup besar bagi industri dalam negeri dan pasar konsumen di banyak negara.
Tantangan ketiga juga karena pemulihan ekonomi Tiongkok. Penerapan kebijakan ekonomi kontra-pasar saat ini, meskipun hanya memiliki efek "plasebo", tetapi telah memperburuk fenomena di atas.
Terakhir, intimidasi militer Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik belum berkurang, termasuk aksinya di "tiga lautan" untuk menahan seluruh dunia demokrasi dan mengurangi tekanan yang dihadapi Rusia. Hal ini terutama bertujuan untuk mendapatkan ruang negosiasi dan terobosan strategis, sebelum situasi politik di AS, Jepang, dan negara-negara besar Eropa memasuki tahap baru.
Ancaman Gabungan Tiongkok yang Berkelanjutan, Manajemen Risiko Bersama oleh Kubu Demokrasi
Bagi Indo-Pasifik atau Taiwan, terdapat tiga dampak yang signifikan. Tiongkok memperkuat aksi menghalang-halangi di "tiga lautan", serta terus melakukan ancaman gabungan terhadap Taiwan, seperti gangguan zona abu-abu, manipulasi kognitif, dan paksaan ekonomi. Terakhir, dengan situasi politik dan ekonomi global yang terus berubah, "stabilitas" akan menjadi seruan utama, dan kubu demokrasi mulai mencari manajemen risiko bersama.
Para pejabat keamanan nasional mencontohkan bahwa setelah latihan militer "Joint Sword B" Tiongkok, Pasukan Bela Diri Jepang dan militer AS juga bersama-sama melakukan latihan militer besar-besaran, Keen Sword, dengan mengerahkan hampir 50.000 tentara, lebih dari 50 kapal perang, dan hampir 400 pesawat militer.
Keen Sword sendiri berfokus pada pelatihan anti-kapal, pertahanan udara, komando dan kontrol bersama, sumber daya medan perang, dan pengerahan pasukan cepat.
Ini jelas merupakan latihan pencegahan strategis, yang memberi tahu Tiongkok untuk tidak bertindak gegabah karena berbagai negara sedang dalam masa pemilu.
Dari tanggal 15 hingga 25 Oktober, "Latihan Kamandag" yang melibatkan tujuh negara juga diadakan di Laut Tiongkok Selatan. Ini semua adalah tindakan pengendalian risiko militer yang dilakukan oleh negara-negara terkait.
Di samping itu, parlemen Eropa juga telah mengesahkan resolusi bersama untuk melawan perang hukum Tiongkok dan upaya mengisolasi Taiwan sampai batas tertentu, dan telah menerima dukungan yang luar biasa.