History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Tragedi Banjir Bandang Terparah di Eropa! Spanyol Berduka, Lebih dari 200 Nyawa Melayang

  • 03 November, 2024
  • 尤繼富
Tragedi Banjir Bandang Terparah di Eropa! Spanyol Berduka, Lebih dari 200 Nyawa Melayang
Tragedi Banjir Bandang Terparah di Eropa! Spanyol Berduka, Lebih dari 200 Nyawa Melayang 圖/今日新聞

(Taiwan, ROC) —- Spanyol dilanda banjir terparah dalam beberapa dekade terakhir, menewaskan lebih dari 200 orang.  Sebagian besar korban berada di wilayah Valencia. 

Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, dengan ribuan relawan membantu militer dalam proses evakuasi dan pembersihan. 

Tim penyelamat dan relawan dikerahkan untuk mencari korban yang mungkin masih terjebak. Bencana ini telah merenggut setidaknya 200 nyawa. 

Seorang warga terlihat dievakuasi dengan helikopter bersama anjing peliharaannya. 

Perez, seorang warga yang selamat, berkata, "Semua kenangan hidup saya di sini, kebersamaan dengan orang tua, hancur dalam sekejap. Kami hampir kehilangan nyawa." 

Kehilangan tempat tinggal membuat warga menangis tanpa suara. Garis polisi telah dipasang di lokasi bencana. Banjir terparah di Spanyol dalam beberapa dekade terakhir ini menyebabkan rumah dan jalanan di wilayah terdampak, terutama Valencia, terus runtuh. Korban jiwa diperkirakan akan terus bertambah. 

Anjing pelacak juga dikerahkan untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan, berharap dapat menemukan lebih banyak korban selamat. 

"Banyak kerugian terjadi di sana, seharusnya ini bisa dihindari," ujar seorang warga bernama Santiago. 

"Pasti banyak pengendara yang terjebak di dalam terowongan karena mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Ini sungguh tidak manusiawi," lanjut Santiago.

Mobil-mobil menumpuk di pintu masuk terowongan, sementara tim penyelamat berusaha mengevakuasi para korban. Wilayah yang terisolasi karena akses jalan terputus menghadapi krisis pangan, air, dan listrik.

 "Saya hanya punya sedikit susu dan beberapa kebutuhan pokok. Karena bencana ini, semuanya sudah tidak bisa dibeli lagi," kata Paloma, seorang warga lainnya.

Komentar

Terbarumore