(Taiwan, ROC) --- Dengan segera datangnya pemilihan presiden AS, para pakar menunjukkan bahwa strategi AS yang ambigu terhadap Taiwan telah gagal untuk mencegah tekanan abu-abu militer Tiongkok.
Terlepas dari siapa yang akan memenangkan kontestasi pemilu AS, Taiwan perlu memperhatikan kemungkinan tindakan yang dilakukan oleh militer Tiongkok.
Pada Rabu kemarin (30/10), Pusat Studi Hubungan Internasional Universitas Nasional Cheng Chi mengadakan simposium tentang "Pemilu AS 2024 dan Hubungan Lintas Selat".
Profesor Ma Zhen-kun (馬振坤) dari Institut Riset Urusan Militer Partai Komunis TIongkok di Universitas Pertahanan Nasional membuat pernyataan pada pertemuan tersebut.
Ma Zhen-kun menyampaikan, setelah pertemuan antara Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, dengan Menteri Pertahanan Tiongkok, Dong Jun (董軍), dalam Dialog Shangri-La di Singapura pada Mei tahun ini, membuat mekanisme komunikasi militer antara Tiongkok dengan AS telah dilanjutkan.
Diperkirakan bahwa dari hari pemungutan suara pemilu AS hingga pelantikan pada 20 Januari 2025, interaksi militer antara kedua belah pihak akan tetap relatif stabil.
Dalam hal hubungan lintas selat, Ma Zhen-kun percaya bahwa kandidat presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris, akan mengikuti tren pemerintahan Joe Biden. Selain menekankan kebijakan Satu Tiongkok, ia juga menekankan bahwa Taiwan memiliki hak untuk membela diri, dan Amerika Serikat harus menyediakan dan membantu Taiwan dalam memperkuat pertahanan dirinya.
"Dibandingkan dengan Harris, Trump lebih 'meloncat-loncat'," demikian analisis Ma Zhen-kun. Donald Trump telah membuat beberapa pernyataan tentang Taiwan, termasuk mengenakan tarif 150% hingga 200% pada Tiongkok atau bahkan meledakkan Beijing jika Tiongkok menginvasi Taiwan. Pernyataan ini jelas sepenuhnya berbeda dengan kebijakan Selat Taiwan milik Kamala Harris.
Secara gamblang, Ma Zhen-kun mengakui bahwa strategi ambigu AS terhadap Taiwan telah memberi ruang bagi militer Tiongkok untuk melecehkan Taiwan di zona abu-abu.
Dia mengatakan bahwa Amerika Serikat menyediakan pertahanan bebas bagi Taiwan, yaitu mempertahankan status quo. Ini adalah strategi ambigu yang konsisten dari kebijakan Selat Taiwan milik AS.
Namun, dari perspektif militer, strategi ambigu ini tidak berdampak apa pun bagi Taiwan, karena ini telah gagal untuk secara efektif menghalangi tindakan zona abu-abu Tiongkok terhadap Taiwan dalam beberapa tahun terakhir.
Ma Zhen-kun menjelaskan bahwa tujuan awal dari strategi ambigu kebijakan Selat Taiwan AS adalah untuk "membiarkan Tiongkok menebak" apakah Amerika Serikat akan mengirim pasukan untuk mempertahankan Taiwan, sehingga menciptakan efek jera.
Namun, setelah interaksi jangka panjang dengan militer AS, militer Tiongkok juga telah menemukan celah, yaitu dengan mengambil tindakan di zona abu-abu untuk menekan Taiwan secara perlahan.
Ma Zhen-kun percaya bahwa tekanan militer zona abu-abu terhadap Taiwan ini, selain memberikan tekanan pada pertahanan Taiwan, juga menguji untuk melihat bagaimana reaksi Amerika Serikat.
Militer Tiongkok secara bertahap menekan, tetapi Amerika Serikat tidak dapat memberikan tindakan balasan yang efektif.
Ma Zhen-kun menekankan bahwa dalam menghadapi situasi militer lintas selat yang semakin tegang, militer Taiwan juga harus membuat persiapan yang memadai dan merespons dengan baik kemungkinan tindakan penindasan lebih lanjut oleh militer Tiongkok.