(Taiwan, ROC) – Hasil pemilu Jepang, sekutu penting Amerika Serikat (AS) dalam keamanan Asia sangat mengejutkan, ditambah dengan kemungkinan ketidakstabilan dalam pemilihan presiden AS minggu depan, hal tersebut ditakutkan akan membuat Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan pesaing lainnya mengambil kesempatan untuk menguji komitmen Barat terhadap keamanan di Asia Timur. Menurut analisis, Pemerintah Beijing mungkin akan lebih berani dan meningkatkan tekanan terhadap Taiwan.
Menurut pemberitaan Reuters, aksi militer RRT di sekitar pulau Jepang dan dekat Taiwan terus meningkat, termasuk menggelar lebih banyak latihan militer rutin bersama Rusia serta pelanggaran wilayah udara Jepang oleh pesawat militer RRT pada Agustus lalu. Pemerintah Jepang pun dilaporkan tengah melakukan ekspansi militer terbesar sejak Perang Dunia II.
Namun, koalisi Partai Demokratik Liberal (LDP) dan Komeito yang telah lama memerintah Jepang mengalami kekalahan terbesar dalam 15 tahun terakhir pada pemilu yang digelar pada Minggu (27/10), sehingga koalisi tersebut harus mencari dukungan dari partai oposisi untuk tetap menguasai parlemen dan melanjutkan pemerintahan. Hal ini merupakan contoh terbaru akan ketidakpuasan rakyat di negara sekutu AS dalam menolak partai yang berkuasa saat ini.
Di sisi lain, pemilihan presiden AS berkemungkinan akan dimenangkan oleh kandidat dari Partai Republik, Donald Trump. Pada masa kepemimpinannya dari 2017 hingga 2021, Trump pernah mencoba menekan pemerintah Jepang agar membayar lebih banyak untuk dukungan militer AS. Survei menunjukkan, Trump dan kandidat dari Partai Demokrat, Kamala Harris berada dalam persaingan yang sangat ketat.
Setelah kalah dalam pemilihan presiden pada tahun 2020 yang lalu, Trump berusaha membatalkan hasil pemilu, dan para pendukungnya sempat menyerbu Gedung Kongres AS. Trump menyatakan bahwa jika dirinya kalah lagi, maka ia akan mengklaim jikalau pemilu tidaklah adil dan tidak akan menerima hasilnya.
Menurut analisis, dampak pemilu di Jepang sebagai sekutu penting AS dapat memberikan keberanian kepada RRT dan lawan-lawan lainnya. Analis memperkirakan Negeri Tirai Bambu mungkin akan meningkatkan gangguan terhadap wilayah Jepang dan memperkuat tekanan terhadap Taiwan; Sementara itu, Korea Utara terus memperdalam kerja sama keamanan dengan Rusia dan mungkin akan meningkatkan uji coba rudal balistik.
Mantan penasihat mendiang Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Tomohiko Taniguchi mengatakan, “Dari sudut pandang Beijing, ini (hasil pemilu Jepang) menandakan situasi ideal: politik Jepang mengalami kebuntuan.”
Selain itu, Tomohiko Taniguchi juga menunjukkan, “Gangguan RRT terhadap wilayah udara dan perairan Jepang mungkin akan meningkat, dan provokasi militer terhadap Taiwan bisa menjadi hal yang biasa.”
Nicholas Szechenyi, pakar hubungan AS-Jepang dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) think tank AS, mengatakan “Setiap tanda perlambatan atau penurunan ambisi dalam rencana kebijakan pertahanan Jepang akan mendorong Negeri Tirai Bambu dan Korea Utara untuk menganggap pihak Jepang melemah dan meremehkan upaya Washington dalam memperkuat aliansi AS-Jepang.”