(Taiwan, ROC) --- Seorang ibu bermarga Pan (潘姓) di Taichung, memicu kontroversi online setelah mengunggah foto anak-anaknya yang mengenakan kostum "Golden Boy and Jade Maiden 金童玉女" dan memegang lentera bertuliskan "奠 baca: Diàn" di Kuil Wanhe. Sang pengunggah mengunggah foto kedua anak tersebut di tengah ramainya perayaan Hallowen, yang akan tiba sebentar lagi.
Foto-foto itu, yang dibagikan di grup Facebook populer, menuai kritik keras dari netizen yang menganggap tindakannya tidak sopan dan tidak menghormati dewa di dalam kuil.
Postingan Pan yang viral di media sosial di Taiwan. 圖/LINETODAY
金童玉女 baca: Jīn tóng yùnǚ, secara harfiah dapat diartikan sebagai "Golden Boy and Jade Maiden", memiliki makna yang berbeda dalam Taoisme dan kepercayaan rakyat Tionghoa.
Dalam Taoisme, istilah ini merujuk pada pelayan abadi yang melayani mereka yang telah mencapai pencerahan.
Dalam kepercayaan rakyat, yang menggabungkan pengaruh Buddha dan Taoisme, menggunakan patung anak laki-laki dan perempuan yang terbuat dari kertas atau bambu, yang juga disebut "Golden Boy and Jade Maiden", untuk mewakili pelayan bagi mereka yang sudah meninggal.
Tokoh-tokoh ini ditempatkan di depan altar persembahyangan almarhum, dan bahkan ada persembahan kertas yang dirancang khusus dengan cara ini.
Sedangkan huruf 奠 baca: Diàn, biasanya juga sering ditemukan saat upacara persemayaman dilakukan. Huruf 奠 sendiri memiliki pengertian yakni memberikan penghormatan kepada mendiang dengan persembahan.

"Golden Boy and Jade Maiden" ditempatkan di depan meja persembahyangan mendiang, dan bahkan ada persembahan kertas yang dirancang khusus dengan cara ini. 圖/vocus.cc
Menanggapi kritikan keras dari para netizen, pada Rabu kemarin (23/10), Pan mengunjungi Kuil Wanhe untuk meminta maaf kepada Mazu, Dewi yang dipuja di kuil tersebut. Pihak kuil membantunya untuk merilis pernyataan permintaan maaf.
Selain itu, Pan juga telah mengajukan laporan polisi terhadap lebih dari 10 netizen, menuduh mereka melakukan pencemaran nama baik, intimidasi, dan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Kesejahteraan Anak dan Remaja.
Menurut laporan yang ada, beberapa netizen mengeluarkan pernyataan yang tidak seharusnya, misal menyebut Pan sebagai ibu "bodoh" dan "idiot", serta membuat ancaman yang mengatakan bahwa dia dan anak-anaknya harus "berhati-hati saat keluar rumah".
Kantor Polisi Keempat Kota Taichung telah menerima laporan tersebut dan sedang menyelidiki masalah ini.

Huruf 奠 sendiri memiliki pengertian yakni memberikan penghormatan kepada mendiang dengan persembahan.
Sebelumnya, Pan memicu kontroversi online setelah membagikan foto anak-anaknya yang berdandan sebagai "Golden Boy and Jade Maiden" di grup Facebook. Dalam postingan tersebut, dia menyebutkan bahwa Halloween adalah waktu baginya untuk menjadi kreatif dan dia akhirnya memutuskan untuk mendandani anak-anaknya sebagai "Golden Boy and Jade Maiden".
Dia melukis wajah kedua putranya dengan warna putih, mengoleskan perona pipi, dan memberi mereka lentera putih bertuliskan "奠 Dian".
Dalam postingan foto tersebut, Pan juga menuliskan kata-kata yang artinya kira-kira, "Saya adalah seorang penyembah Dewi Mazu yang setia. Semoga saya tidak mendapat masalah karena berfoto dengan Dewi Mazu dengan pakaian seperti ini."
Postingan itu menarik lebih dari 1.500 komentar dari netizen, dengan beberapa orang menganggapnya tidak berbahaya, sementara yang lain mengkritiknya karena "terlalu berlebihan" dan mengatakan bahwa karakter 奠 tidak pantas.
Postingan Pan yang viral di media sosial di Taiwan. 圖/LINETODAY
Pan pun segera menghapus postingan tersebut dan menonaktifkan akun Facebook-nya. Rabu kemarin (23/10), dia mengunjungi Kuil Wanhe untuk meminta maaf dan mengeluarkan pernyataan melalui kuil tersebut, menyatakan bahwa ia sangat menyesal atas kegemparan yang dia sebabkan dan masalah yang dia timbulkan pada kuil tersebut.
Dia mengakui bahwa kuil adalah tempat suci yang harus dihormati dan dia seharusnya tidak bertindak sembrono.