(Taiwan, ROC) -- Militer Daratan Tiongkok mengumumkan latihan militer “Joint Sword -2024B” yang mengitari pulau Taiwan, latihan yang berjalan sepanjang 13 jam. Sehubungan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tsai Ming-yen (蔡明彥) hari Rabu ini (16/10) mengatakan, latihan militer ini memiliki ciri-ciri waktu yang singkat dan cakupan yang kecil, namun mobilisasi angkatan udara dengan intensitas tinggi. Selain itu, meskipun pidato Presiden Lai Ching-te pada perayaan hari nasional secara umum dianggap moderat dan pragmatis oleh komunitas internasional, namun Daratan Tiongkok jelas memiliki kesenjangan kognitif yang serius dan menggunakan latihan militer untuk menjelaskannya secara internal.
Selain itu, pihak luar berspekulasi tujuan latihan militer militer RRT adalah untuk menyasar pernyataan dalam pidato Presiden Lai Ching-te pada hari nasional, namun komunitas internasional umumnya beranggapan isi pidato tersebut moderat dan pragmatis. Direktur Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tsai Ming-yen (蔡明彥) menunjuk komunitas internasional Tiongkok memiliki kesenjangan kognitif yang sangat serius mengenai isu-isu yang berkaitan dengan Taiwan, dan RRT menggunakan latihan militer untuk menjelaskan opini publik dalam negeri.
Tsai Ming-yen mengatakan, “Setelah latihan militer, kita dapat melihat bahwa komunitas internasional memerhatikan dengan yang serius dan sangat mengecam tindakan RRT. Secara khusus, Kementerian Pertahanan AS juga kemarin beranggapan latihan militer RRT merupakan tindakan provokatif yang merusak stabilitas regional. Oleh karena itu, latihan militer RRT juga dapat menimbulkan beberapa efek samping dan dampak negatif, membuat komunitas internasional lebih mendukung Taiwan dan memungkinkan masyarakat Taiwan semakin merasakan sikap RRT secara jelas.”
Tsai Ming-yen menambahkan, “RRT mengadopsi banyak cara untuk menyatukan budaya Taiwan. Salah satu caranya adalah dengan mengundang orang-orang yang relatif terkenal di Taiwan, baik itu artis, kalangan budaya, atau beberapa politisi untuk mengungkapkan pendapatnya yang berkaitan dengan promosi reunifikasi lintas selat. Mengenai pernyataan tersebut, saya kira sejauh menyangkut keamanan nasional Taiwan maka kami akan terus memantau apakah ada pelanggaran atau terjadi situasi abnormal. Kami akan memberikan informasi yang relevan kepada instansi yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut yang diperlukan. "
Berkaitan dengan mantan Presiden Ma Ying-jeou yang menyampaikan "teori keraguan", beranggapan bahwa pandangan Presiden Lai Ching-te tentang "teori dua negara baru", mengejarkan garis kedaulatan yang akan memberikan risiko untuk Taiwan. Dalam hal ini, Tsai Ming-yen merespons bahwa aktif atau pasifnya mantan Presiden Ma Ying-jeou, motif tidak bisa berspekulasi, namun dapat dipastikan RRT mengunci politikus Taiwan untuk mempublikasikan pernyataan yang mereka harapkan, pihaknya akan terus memonitor perubahan caera yang akan diambil oleh RRT.