(Taiwan, ROC) Kemarin (1/10) Amerika Serikat menggelar rapat pertemuan “Global Coalition to Defeat ISIS”, dan menyampaikan pernyataan bersama yang menyebut bahwa misi militer di Irak akan diubah menjadi kemitraan keamanan bilateral, memperkuat perlawanan secara komprehensif terhadap tindakan terorisme. Kepala Kantor Ekonomi dan Budaya Taipei di Amerika Serikat, Alexander Yui Tah-ray (俞大㵢) menghadiri undangan tersebut dan memberikan paparan terkait kontribusi Taiwan.
Menlu AS Antony Blinken mengundang anggota koalisi parlemen untuk menghadiri pertemuan “Global Coalition to Defeat ISIS” tingkat Kementerian ke-10, aliansi ini terbentuk pada tahun 2014, yang bertujuan membantu Irak menghadapi organisasi teroris ISIS, pada masa tersebut Taiwan ikut bergabung.
Kantor Ekonomi dan Budaya Taipei di Amerika Serikat mengeluarkan naskah pers dan menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut Alexander Yui Tah-ray (俞大㵢) memberikan sambutan yang menyebutkan, Taiwan sebagai bagian dari komunitas internasional yang bertanggung jawab dan selaku anggota Global Coalition to Defeat ISIS, maka Taiwan aktif menanggapi tugas pekerjaan aliansi ini.
Alexander Yui Tah-ray (俞大㵢) mengatakan, tahun ini Taiwan tengah aktif memberikan bantuan revitalisasi kehidupan masyarakat Suriah kawasan timur laut, bermaksud memperbaiki kondisi kesehatan publik setempat, meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan kemampuan petugas penyelamat dalam memberikan pertolongan pertama, di masa mendatang Taiwan akan terus berkontribusi demi stabilitas regional.
Naskah pers menyampaikan, beberapa tahun terakhir ini, Taiwan memberikan bantuan kemanusiaan untuk wilayah yang diduduki oleh ISIS, sejumlah US$ 4 juta (setara dengan NT$ 128 juta), dana yang dialokasikan untuk stabilitas Timur Tengah, hasilnya mendapat pengakuan dari aliansi ini. Taiwan bersama AS dan negara-negara yang memiliki pandangan serupa untuk saling bekerja sama membela nilai-nilai kebebasan dan demokrasi, mempromosikan stabilitas, perdamaian dan kemakmuran regional dan dunia.
Pernyataan yang dikeluarkan dalam pertemuan tersebut adalah, aliansi tersebut merencanakan akan mengubah misi militer di Irak menjadi kemitraan keamanan bilateral, yang mencerminkan ancaman ISIS semakin berkurang. Aliansi ini juga menekankan, baik anggota maupun mitra akan merusak jaringan ISIS di seluruh dunia, membatasi pendanaan ISIS dan memastikan tidak ada lagi kebangkitan ISIS.
Pernyataan tersebut mengemukakan, anggota aliansi menyetujui pembentukan tim kerja untuk stabilitas aliansi, merencanakan pengumpulan dana senilai US$ 394 juta untuk penduduk di Irak dan Suriah yang dikuasai ISIS, hingga saat ini jumlah dana yang terkumpul mencapai US$ 200 juta, yang dialokasikan untuk memperbaiki kehidupan para pengungsi, membantu pengungsi untuk kembali ke komunitas asal mereka.
Pernyataan bersama menyampaikan, hingga saat ini aliansi ini beranggotakan 87 negara dan mitra, untuk negara yang baru bergabung adalah Republik Maladewa, masih ada 6 anggota pengamat termasuk Pakistan dan Uzbekistan.