(Taiwan, ROC) – Para pekerja migran yang memikul beban ekonomi kampung halaman di pundak mereka, datang ke Taiwan seorang diri dengan harapan membangun masa depan. Namun, di tengah perjuangan keras tersebut mereka pun kerap terjerat dalam jebakan penipuan yang merampas hasil jerih payah mereka. Menurut survei, hampir 30% pekerja migran pernah menjadi korban penipuan, dengan rata-rata kerugian sebesar lebih dari NT$7.000 per orang. Diperkirakan total kerugian pekerja migran akibat penipuan ini telah mencapai lebih dari NT$1,7 miliar.
Kasus penipuan di Taiwan terus bermunculan, bukan hanya terhadap orang Taiwan saja, tetapi pekerja migran pun bisa menjadi korban. Organisasi Nirlaba One-Forty dan Bank Fubon Taipei pada hari ini (26/9) bersama-sama merilis “Survei Kesadaran Pengelolaan Keuangan Pekerja Migran” terbaru. Survei tersebut menunjukkan bahwa banyak pekerja migran tidak hanya pernah menjadi korban penipuan, tetapi juga menyaksikan orang tua yang mereka rawat turut mengalami penipuan.
“Survei Kesadaran Pengelolaan Keuangan Pekerja Migran” ini mengumpulkan total sebanyak 546 kuesioner, di mana mayoritas responden adalah perempuan (79%). Sebagian besar pekerja migran yang disurvei telah tinggal di Taiwan selama 5-10 tahun, dengan usia rata-rata 35 tahun. Survei ini berfokus pada 3 aspek utama, termasuk perilaku pengelolaan keuangan pekerja migran, kesadaran dan pengalaman penipuan, serta kebutuhan dan layanan keuangan pekerja migran.
Pendiri One-Forty, Kevin (陳凱翔) menyatakan bahwa berdasarkan hasil survei, 27% pekerja migran yang diwawancarai pernah menjadi korban penipuan. Di antaranya, sebanyak 85% telah ditipu 1-2 kali dan 15% lainnya telah tertipu lebih dari 3 kali, dengan rata-rata kerugian per orangnya mencapai NT$7.995. Jika angka ini diterapkan pada sekitar 800 ribu pekerja migran di Taiwan, total kerugian akibat penipuan diperkirakan bisa mencapai angka NT$1,7 miliar, sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan.

Kevin (陳凱翔) juga menambahkan, jenis penipuan yang paling umum dialami oleh pekerja migran adalah penipuan berupa permintaan pinjaman dari “kerabat” palsu (15,7%), remitansi lintas batas (11,7%), dan situs belanja palsu (10,6%). Dalam banyak kasus, penipuan tersebut bahkan dilakukan oleh teman atau sesame warga dari negara asal mereka.
Ketika disurvei mengenai kesadaran pengelolaan keuangan, lebih dari 60% pekerja migran mengaku tidak memiliki kebiasaan mencatat keuangan secara teratur dan terperinci. Namun, sebanyak 90% menyatakan keinginan mereka yang kuat untuk belajar tentang pengelolaan keuangan guna membangun pondasi yang lebih kuat menuju kemandirian ekonomi.
Kevin (陳凱翔) mengemukakan, pekerja migran memikul harapan keluarga mereka dalam memberikan dukungan finansial. Mereka harus bekerja di lingkungan yang asing dan jauh dari kampung halaman, sehingga selain menghadapi tekanan fisik dan mental, hambatan bahasa juga membuat mereka sulit untuk mendapatkan pengetahuan tentang pencegahan penipuan serta bantuan untuk menghindari sindikat penipuan, sehingga mereka pun lebih rentan terjerat dalam jebakan tersebut.
Kevin (陳凱翔) juga menyebutkan bahwa berdasarkan survei, dari 240 ribu pekerja migran yang bekerja sebagai pengasuh di Taiwan, ada 1 dari 10 orang pernah menyaksikan lansia yang mereka rawat menjadi korban penipuan. Jika para pekerja migran memiliki pengetahuan dan metode pencegahan penipuan, maka mereka pun berkemungkinan dapat lepas dari jerat penipu melalui bantuan pekerja migran.

Kevin (陳凱翔) menyebutkan, One-Forty akan bekerja sama dengan Bank Fubon Taipei untuk meluncurkan serangkaian inisiatif “Aksi Inklusi Keuangan untuk Pekerja Migran”, termasuk pembuatan permainan papan “Hidup Sejahtera” dalam versi bilingual; Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin. Permainan ini memungkinkan pekerja migran dan lansia untuk belajar secara bersama-sama tentang pencegahan penipuan dan pengetahuan keuangan melalui pendekatan edukasi berbasis permainan. Mereka juga akan mencetak panduan pencegahan penipuan dan panduan penggunaan layanan perbankan dalam 4 bahasa: Bahasa Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand, yang akan tersedia secara gratis di 179 cabang Bank Fubon di Taiwan dan melalui One-Forty.
Selain itu, One-Forty dan Bank Fubon akan mengembangkan kursus offline dan online berdasarkan kebutuhan para pekerja migran, guna meningkatkan pemahaman mereka akan layanan perbankan, mendorong mereka menggunakan saluran keuangan yang sah, serta meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam mendeteksi penipuan. Tujuannya adalah untuk memperluas jarring pengaman bagi para pekerja migran dan lansia yang mereka rawat, sehingga dapat meningkatkan jaminan terhadap keamanan ekonomi mereka.