History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

“Mengapa Orang Taiwan Tidak Suka Makan Ikan Air Tawar”, Netizen Indonesia Ungkap Alasannya, Memicu Perdebatan Hangat di Media Lokal

  • 15 September, 2024
  • 尤繼富
“Mengapa Orang Taiwan Tidak Suka Makan Ikan Air Tawar”, Netizen Indonesia Ungkap Alasannya, Memicu Perdebatan Hangat di Media Lokal
“Mengapa Orang Taiwan Tidak Suka Makan Ikan Air Tawar”, Netizen Indonesia Ungkap Alasannya, Memicu Perdebatan Hangat di Media Lokal

(Taiwan, ROC) --- Sejumlah warga Taiwan menghindari mengonsumsi ikan air tawar liar karena kekhawatiran terhadap polusi sungai, dan cenderung memilih ikan laut.

Baru-baru ini, seorang pengguna internet asal Indonesia mengunggah video pendek yang menyatakan bahwa masyarakat Taiwan tidak mengonsumsi ikan air tawar dan meyakini bahwa ikan nila sungai tidak layak untuk dikonsumsi.

Pernyataan ini langsung memicu diskusi online, mengingat kebiasaan ini berbeda dengan masyarakat Indonesia yang kerap mengonsumsi ikan nila air tawar.

Dalam video pendek yang diunggah ke media sosial, pengguna internet tersebut menyatakan,  "Jika masyarakat Indonesia menemukan ikan nila di sungai, mereka pasti akan menangkapnya untuk dikonsumsi. Namun, masyarakat Taiwan percaya bahwa ikan air tawar tersebut berbahaya bagi kesehatan dan tidak layak konsumsi, sehingga mereka umumnya tidak mengonsumsi ikan air tawar."

Video yang diunggah ke YouTube pada tanggal 8 September 2024 tersebut telah ditonton lebih dari 965.000 kali hingga saat ini, memicu diskusi di antara ribuan pengguna internet terkait kebiasaan konsumsi masyarakat Taiwan dan menarik perhatian media lokal.

圖/JATIMTIMES

Pada tanggal 13 September 2024, media "Jatim Times", mewartakan dengan menyematkan judul, "Ramai di Medsos, Benarkah Orang Taiwan Tak Makan Ikan Air Tawar? " 

Meskipun topik mengenai masyarakat Taiwan yang tidak mengonsumsi ikan air tawar telah memicu perdebatan di media sosial, tetapi pemerintah dan otoritas terkait di Taiwan tidak secara resmi melarang maupun menyarankan masyarakatnya untuk tidak mengonsumsi ikan air tawar atau ikan air tawar yang tidak dibudidayakan.

Namun, dapat dipastikan bahwa pada umumnya warga Taiwan lebih memilih untuk mengonsumsi ikan laut.

Ikan nila, yang dikenal dengan kelezatannya di Indonesia, merupakan hidangan yang umum ditemukan di pedagang kaki lima dan restoran. Pengguna internet Indonesia dengan akun YouTube @INFOSATWA-idn menyatakan bahwa ikan nila dianggap sebagai komoditas ikan yang menguntungkan dengan potensi ekonomi yang besar.

Namun, situasinya berbeda di Taiwan, di mana masyarakat Taiwan tidak terlalu gemar mengonsumsi ikan nila. Salah satu faktornya adalah terdapatnya potensi risiko infeksi cacing hati.

陽光物產01】經過ASC認證的台灣鯛- 農傳媒

圖/農業部

Pada tahun 2003 silam, otoritas Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Taiwan (CDC) mengeluarkan siaran pers yang memperingatkan masyarakat bahwa ikan air tawar lokal di Taiwan sering terinfeksi cacing hati.

Konsumsi ikan air tawar mentah dapat menyebabkan infeksi cacing hati Clonorchis sinensis. Cacing hati Clonorchis sinensis lazim ditemukan di Tiongkok, Taiwan, dan negara-negara Asia Tenggara, dan termasuk dalam penyakit parasit zoonosis.

Seorang pengguna internet Indonesia yang bekerja di Taiwan berkomentar bahwa masyarakat Taiwan enggan menangkap dan mengonsumsi ikan air tawar karena kekhawatiran terhadap polusi sungai.

Pengguna internet lain menjelaskan bahwa ikan nila di sungai-sungai Taiwan tidak ditangkap dan berkembang biak secara berlebihan, sehingga populasinya meningkat pesat. Mereka lebih menyukai ikan yang dibudidayakan, yang mereka anggap lebih aman dan layak konsumsi.

Pada tahun 2023, kantor berita Agence France-Presse (AFP) pernah mewartakan bahwa mengonsumsi satu porsi ikan air tawar yang ditangkap di sungai atau danau di Amerika Serikat sama dengan meminum air yang terkontaminasi zat PFAS (Per- and polyfluoroalkyl substances) selama satu bulan.

Tulisan dari media AFP di atas juga berdasar pada sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research.

PFAS, yang tidak terlihat dengan mata telanjang, pertama kali ditemukan pada tahun 1940-an dan dikenal karena sifatnya yang tahan air dan panas.

Zat ini sekarang digunakan dalam berbagai produk, termasuk peralatan masak anti lengket, tekstil, busa pemadam kebakaran, dan kemasan makanan.

Studi tersebut menemukan bahwa kadar PFAS dalam ikan air tawar 278 kali lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam ikan yang dijual secara komersial.

Komentar

Terbarumore