(Taiwan, ROC) --- Menanggapi krisis tenaga kerja yang melanda sektor jasa dan konstruksi, Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan (MOL) aktif mempromosikan perekrutan PMA (Pekerja Migran Asing) dari India.
Namun, seorang warga Taiwan yang bekerja di India membagikan pengalamannya, mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan budaya yang signifikan antara India dengan Taiwan.
Ia menekankan pentingnya bagi pengusaha Taiwan untuk memahami etos kerja dan persepsi waktu pekerja India sebelum merekrut mereka. Ia juga menegaskan bahwa tulisannya berdasarkan pengalaman pribadinya yang penuh tantangan di India.

圖/中時新聞網
Dalam unggahannya di forum online PTT, penulis yang mengaku sebagai "korban" ini menyoroti beberapa karakteristik pekerja India yang perlu diperhatikan oleh pengusaha Taiwan yang berencana merekrut mereka.
1. Asal Daerah
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar tenaga kerja India berasal dari negara bagian di India Utara yang relatif miskin dan memiliki pasokan tenaga kerja yang melimpah. Sebaliknya, India Selatan lebih makmur, tetapi penduduknya dikenal lebih santai, bahkan agen tenaga kerja lokal pun enggan merekrut mereka.
2. Integritas
Penulis juga menyoroti kebiasaan buruk pekerja India yang sering terlambat dengan berbagai alasan. "Mereka bilang 5 menit, tapi sebenarnya bisa 30 menit," tulisnya.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat bernegosiasi bisnis, di mana rekan India sering memberikan kesan bahwa mereka akan mengirimkan dokumen tepat waktu, padahal kenyataannya, keterlambatan hingga 3 hari masih dianggap wajar di India.
3. Kualitas Pekerja
Lebih lanjut, penulis mengemukakan bahwa banyak pekerja India memiliki kualitas yang rendah. Mereka tidak terbiasa menggunakan peralatan tangan, sehingga pengusaha Taiwan mungkin perlu meluangkan waktu dan usaha ekstra untuk melatih mereka.
Selain itu, mereka juga tidak memiliki budaya gotong royong dalam bekerja. Oleh karena itu, setiap awal shift, pengusaha perlu mengumpulkan semua pekerja, membagi mereka menjadi kelompok-kelompok kecil, dan memberikan instruksi kerja secara individual.
"Jangan pernah menugaskan pekerjaan kepada seorang ketua kelompok, karena yang akan terjadi adalah satu orang bekerja, sementara yang lain hanya menonton," tulisnya.

圖/天下雜誌
4. Lambat dan Persepsi Waktu yang Berbeda
Penulis menggambarkan India sebagai negara dengan ritme kehidupan yang lambat. "Segala sesuatunya berjalan sangat lambat di sini," tulisnya.
Ia mencontohkan proses pembukaan rekening bank yang bisa memakan waktu hingga satu bulan.
Pekerja India juga memiliki kebiasaan bekerja yang "santai", dimulai dengan datang dan sarapan pukul 09:00 pagi, minum teh susu pukul 11:00 pagi, makan siang pukul 13:00 siang, minum teh susu lagi pukul 15:00, dan pulang pukul 18:00.
"Mereka terlihat sibuk, tetapi pada kenyataannya, kemajuan pekerjaan mereka sangat minim," tulisnya.
5. Enggan Lembur
Penulis juga menyoroti perbedaan pandangan tentang uang antara pekerja India dengan Asia pada umumnya.
"Bagi mereka, hanya agama dan keluarga yang penting," tulisnya. Berbeda dengan pekerja Taiwan yang termotivasi untuk mendapatkan penghasilan tambahan, pekerja India memiliki hasrat yang rendah terhadap uang.
6. Harga Diri Nasional yang Tinggi
Penulis menekankan bahwa orang India memiliki kebanggaan nasional yang tinggi. "Mereka menganggap negara mereka setara dengan negara-negara Barat," tulisnya.
Menghina orang India atau negara mereka adalah hal yang sangat sensitif. Oleh karena itu, banyak perusahaan asing mempekerjakan orang India berkasta tinggi untuk posisi manajemen guna membantu kelancaran operasional.
Ia juga menambahkan bahwa pekerja India cenderung kaku dan tidak mau melakukan pekerjaan di luar kontrak.

圖/中時新聞網
7. Kesadaran akan Keselamatan Kerja yang Rendah
Penulis menyayangkan rendahnya kesadaran akan keselamatan kerja di kalangan pekerja India.
"Di lokasi konstruksi, mereka sering bekerja tanpa helm pengaman, sabuk pengaman, atau bahkan berjalan di atas struktur baja tanpa alas kaki," tulisnya.
Ia khawatir hal ini dapat menyebabkan masalah keselamatan kerja di Taiwan jika tidak diawasi dengan ketat. Penulis menutup unggahannya dengan nada putus asa, "Semua ini adalah pengalaman pahit saya di tanah India ini. Melihat tenggat waktu proyek yang semakin dekat, saya merasa putus asa."
Namun, beberapa pengguna internet tidak sependapat dengan pandangan penulis. Mereka berbagi pengalaman positif saat bepergian ke Jepang, di mana mereka melihat banyak orang India bekerja secara profesional dan berbaur dengan baik dengan masyarakat setempat. Mereka juga memuji kesopanan dan etika kerja yang baik dari pekerja India di Jepang.