(Taiwan, ROC) – Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional (INDSR) pada hari ini (12/9) menggelar “Dialog Keamanan Taipei 2024”, dengan mengundang berbagai ahli dan akademisi internasional untuk turut berpartisipasi. Acara ini berfokus pada ancaman global dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) serta keamanan di Selat Taiwan. Ketua Dewan urusan Daratan Tiongkok (MAC) Chiu Chui-cheng (邱垂正) yang diundang untuk memberikan sambutan pembukaan, menyatakan bahwa setelah Xi Jin-ping menjabat, RRT berkembang menjadi rezim otoritarian yang ekstrem dan memutarbalikkan apa yang disebut dengan “Konsensus 1992” menjadi “Prinsip Satu Tiongkok”. Oleh karena itu, Taiwan tidak akan menerima kondisi politik semacam ini.
INDSR pada hari ini (12/9) menggelar “Dialog Keamanan Taipei 2024 (Taipei Security Dialogue)” di Hotel Grand Hyatt Taipei, bertajuk “Keamanan Taiwan dan Global di Bawah Tantangan Tiongkok”. Acara ini dihadiri oleh para ahli dan akademisi dari 9 negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Jepang, yang membahas topik seperti “Pentingnya Taiwan bagi Keamanan Global”, “Keamanan Maritim di Kawasan Indo-Pasifik”, serta topik-topik lainnya. Selain itu, acara ini juga menampilkan pidato khusus dari mantan Duta Besar AS untuk PBB Kelly Craft, dan mantan Menteri Pertahanan Australia Marise Payne.
Chairman INDSR Huoh Shoou-yeh (霍守業) dalam pidato pembukaan menyatakan bahwa situasi internasional saat ini berada dalam masa ketidakstabilan, dan di balik ketidakstabilan tersebut terlihat ekspansi dari negara-negara otoriter. Melalui konferensi ini, negara-negara yang mencintai perdamaian di seluruh dunia diharapkan dapat bersama-sama memperkuat kemampuan pencegahan dan ketahanan, serta memperdalam mekanisme koordinasi di antara mereka untuk menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran global.
Huoh Shoou-yeh (霍守業) mengatakan, “Menyesuaikan standar dasar tatanan internasional, menghalang ekspansi otoriter, mencegah agar kawasan Indo Pasifik dan masyarakat seluruh dunia tidak terjerumus dalam bencana perang.”
Ketua MAC Chiu Chui-cheng (邱垂正) saat memberikan pidato pada upacara pembukaan menjelaskan terkait situasi dan sistem Taiwan saat ini. Dirinya mengemukakan, sejak Xi Jin-ping berkuasa, RRT telah dikuasai oleh kelompok otoritarianisme baru. Tanpa adanya pengelolaan yang demokratis dan keseimbangan, hal ini tidak hanya membuat masa depan pembangunan Negeri Panda menjadi tidak jelas, tetapi juga menimbulkan kekacauan dan ketidakstabilan dalam keamanan kawasan.
Chiu Chui-cheng (邱垂正) menyatakan bahwa pemerintah Taiwan selama beberapa tahun terakhir terus berpegang pada kebijakan mempertahankan status quo, tetapi pemerintah Beijing terus meningkatkan ancaman militer dan tidak melepaskan opsi reunifikasi dengan kekuatan militer, berusaha merusak kedaulatan Taiwan serta perdamaian dan stabilitas di wilayah Selat Taiwan.
Chiu menegaskan bahwa mempertahankan demokrasi adalah garis batas yang tidak bisa dilanggar oleh pemerintah Taiwan. Tidak memprovokasi dan menghindari konflik merupakan kesepakatan bersama dalam masyarakat Taiwan. Dirinya juga menekankan bahwa RRT dan Taiwan adalah dua negara yang tidak saling tunduk satu sama lain, serta berharap dapat melakukan dialog dengan pemerintah Beijing atas dasar kesetaraan dan ketulusan, guna mencapai perdamaian dan perkembangan kawasan.