History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Diterjang 20 Taifun Dalam Setahun! Negara Ini Terpilih Sebagai Negara yang Paling Rentan Musibah Bencana Alam.

  • 11 September, 2024
  • 尤繼富
Diterjang 20 Taifun Dalam Setahun! Negara Ini Terpilih Sebagai Negara yang Paling Rentan Musibah Bencana Alam.
Diterjang 20 Taifun Dalam Setahun! Negara Ini Terpilih Sebagai Negara yang Paling Rentan Musibah Bencana Alam. 圖/TechNews

(Taiwan, ROC) --- Di Filipina, bencana alam seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sejak bulan Mei 2024, Filipina diberitakan telah didatangi oleh lima taifun.

Setiap tahunnya, Filipina akan menghadapi rata-rata menghadapi 20 taifun. "World Risk Report", sebuah laporan yang disusun oleh NGO Jerman yang mengevaluasi risiko bencana di 193 negara, menempatkan Filipina sebagai negara dengan risiko tertinggi selama 16 tahun berturut-turut.

Laporan yang diterbitkan bersama oleh Institut Hukum Internasional untuk Perdamaian dan Konflik Bersenjata (IFHV) dan Bündnis Entwicklung Hilft, mengukur risiko berdasarkan tingkat paparan dan kerentanan.

Filipina, yang rata-rata dilanda 20 taifun per tahun, secara konsisten menduduki puncak World Risk Index sejak tahun 2009. Selama pandemi COVID-19 pada tahun 2019, Filipina dilanda 22 taifun, termasuk taifun super Gloria, salah satu taifun terkuat yang pernah tercatat.

摩羯增強為「超級颱風」橫掃菲律賓15死21失蹤170萬人受影響| ETtoday國際新聞| ETtoday新聞雲

"World Risk Report", sebuah laporan yang disusun oleh NGO Jerman yang mengevaluasi risiko bencana di 193 negara, menempatkan Filipina sebagai negara dengan risiko tertinggi selama 16 tahun berturut-turut. 圖/UDN

Taifun tersebut mengakibatkan kerusakan pada ratusan ribu rumah, pusat evakuasi yang penuh sesak, peningkatan kasus COVID-19, kebutuhan kemanusiaan yang melonjak, dan dampak negatif pada kesehatan mental masyarakat.

Sebuah laporan dari Bank Pembangunan Asia tahun 2021 menunjukkan bahwa taifun mungkin telah menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$20 miliar dalam bentuk kehilangan produk domestik bruto di Filipina antara tahun 1990 hingga 2020.

Skor paparan bencana yang tinggi menunjukkan bahwa suatu negara sangat rentan terhadap dampak kekeringan, gempa bumi, tsunami, angin taifun, banjir pesisir dan sungai, serta kenaikan permukaan laut.

Namun, dalam hal paparan bencana, Filipina berada di peringkat keempat, bukan yang tertinggi. Negara dengan paparan bencana tertinggi adalah Tiongkok, diikuti oleh Meksiko dan Jepang.

超級颱風過後菲律賓700萬人失家園或收入NGO重申速立災害賠償機制| 環境資訊中心

Sebuah laporan dari Bank Pembangunan Asia tahun 2021 menunjukkan bahwa taifun mungkin telah menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$20 miliar dalam bentuk kehilangan produk domestik bruto di Filipina antara tahun 1990 hingga 2020. 圖/環境資訊中心

Kesiapsiagaan Pemerintah Mengurangi Dampak Bencana

Frekuensi dan intensitas badai, gempa bumi, dan kekeringan bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam penilaian indeks. Faktor lainnya adalah "kerentanan suatu negara terhadap bencana alam".

Para peneliti menunjukkan bahwa hal ini terjadi ketika masyarakat tidak memiliki kapasitas untuk mengatasi bahaya musibah bencana, yang terkadang memiliki keterkaitan dengan beberapa faktor, misal kemiskinan, tingkat korupsi yang tinggi, atau sistem perawatan kesehatan yang buruk, serta kurangnya kesiapsiagaan bencana.

Secara keseluruhan, sepuluh negara teratas dengan skor risiko tertinggi adalah Filipina, Indonesia, India, Kolombia, Meksiko, Myanmar, Mozambik, Rusia, Bangladesh, dan Pakistan.

Sebagian besar pusat risiko terkonsentrasi di Amerika dan Asia. Namun, dengan perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem, pusat-pusat global ini diperkirakan akan bergeser, yang secara khusus akan berdampak pada masyarakat kaum lemah di Afrika.

Laporan tersebut menekankan bahwa bencana alam tidak selalu berdampak buruk bagi banyak orang jika suatu negara berinvestasi dalam kesiapsiagaan bencana.

Hal ini menjelaskan mengapa negara-negara kaya seperti Amerika Serikat atau Australia, meskipun memiliki risiko tinggi terhadap bahaya alam seperti kekeringan, gempa bumi, dan badai, tetapi tidak menempati peringkat tinggi dalam World Risk Index.

Tiongkok, misalnya, naik 12 peringkat ke posisi 22 dalam World Risk Index dibandingkan tahun lalu, karena langkah-langkah pencegahan bencana yang dilakukan pemerintah secara ekstensif, terlepas dari apakah itu harus mengorbankan kebebasan warganya.

颱風摩羯重創菲律賓多地釀災增至14死| 精選| 國際| 2024-09-03 – 光明日报

Para peneliti menunjukkan bahwa hal ini terjadi ketika masyarakat tidak memiliki kapasitas untuk mengatasi bahaya musibah bencana, yang terkadang memiliki keterkaitan dengan beberapa faktor, misal kemiskinan, tingkat korupsi yang tinggi, atau sistem perawatan kesehatan yang buruk, serta kurangnya kesiapsiagaan bencana. 圖/光明日報

Bencana Alam Akibat Ulah Manusia

Laporan World Risk Index hanya mencakup bencana alam dan tidak termasuk bahaya yang disebabkan oleh manusia, seperti perang dan konflik. Laporan tersebut juga memperingatkan meningkatnya frekuensi krisis ganda, seperti kelompok bersenjata yang berkembang setelah bencana alam.

Hal ini berarti bahwa kelompok-kelompok ini lebih mudah merekrut orang-orang yang tiba-tiba jatuh miskin atau terlantar. Selain itu, persaingan untuk mendapatkan sumber daya yang langka seperti air, makanan, energi, atau bantuan juga dapat meningkat, yang semakin memperburuk konflik.

Laporan tersebut merekomendasikan bahwa ketika negara-negara berupaya mengurangi kerentanan mereka terhadap bencana alam, maka tidaklah cukup hanya dengan memperkuat langkah-langkah tradisional, seperti bendungan, sistem peringatan dini, dan layanan penyelamatan.

Investasi dalam pendidikan dan kesehatan, serta pengurangan ketidaksetaraan sosial, juga memiliki dampak yang signifikan dalam mengurangi kerentanan.

Lima negara dengan risiko terendah di World Risk Index 2024 adalah, Monako, Andorra, Republik San Marino, Luksemburg, dan negara kepulauan Afrika Tengah, Sao Tome dan Principe.

Komentar

Terbarumore