History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Prof. Jepang: Hongkong Tidak Seperti Xinjiang! Seminar Rti dengan Profesor Jepang Bahas Isu Hongkong

  • 03 September, 2024
  • 尤繼富
Prof. Jepang: Hongkong Tidak Seperti Xinjiang! Seminar Rti dengan Profesor Jepang Bahas Isu Hongkong
Presiden Rti Chang Jui-chang

(Taiwan, ROC) -- Dalam rangkain kunjungan delegasi Radio Taiwan Internasional (Rti) ke Jepang yang dipimpin oleh Presiden Rti Chang Jui-chang dan Direktur Pelaksana Liu Hsia-ju (劉夏如) mengelar seminar dengan AKO Tomoko, profesor Universitas Tokyo yang menangani isu-isu terkait Tiongkokm Kurata Toru professor Universitas Rikkyo yang melakukan penelitian isu Hongkong, Kurata Akiko professor jurusan bahasa asing Universitas Tokyo membicarakan “Komunitas Hongkong di Jepang”, “Orang Hongkong di Jepang” dan lainnya pada tanggal 2 September.

Presiden Rti Chang Jui-chang mengemukakan, pemerintah Tiongkok kerap mengunakan taktik “pembersihan” tetapi dari awal pemerintahan otoriter di bawah sistem darurat militer juga tidak bisa “membersihkan” Taiwan, oleh karena itu apakah Xi Jin-ping akan menggunakan taktik “pembersihan” Xinjiang dan Tibet untuk “membersihkan” Hongkong? Ini yang ditanyakan kepada para professor Jepang.

Profesor Kurata, yang saat ini mengajar bahasa Kanton di "Asosiasi Rakyat Hong Kong Jepang" (Japan Hongkongers Association) berupaya keras untuk membantu orang Hongkong dalam beradaptasi di masyarakat Jepang. Peneliti terkemuka terkait isu Hongkong ini merasa bantuannya saat ini tidak besar, ada 2 alasan, yang pertama adalah jaringan internet, yang satunya lagi adalah posisi Hongkong sebagai pusat finansial internasional yang bermakna kapitalisme.

Profesor Kurata beranggpan perbedaan yang paling besar antara Hongkong dan Xinjiang adalah “jaringan internet”, seluruh Tiongkok berada dalam jaringan tertutup, mereka tidak dapat melihat facebook, “X (Twitter lama)” dan lainnya. Namun berbeda dengan Hongkong yang dapat melihatnya, sehingga bisa mendapatkan informasi dari luar. Untuk itulah meskipun orang Hongkong sendiri tidak dapat melampiaskan tetapi mereka memperhatikan informasi dari luar.

Profesor Kurata berbagi sebuah kisah singkat, menjelaskan bahwa orang Hongkong masih dapat menerima informasi dari luar. Saat ia mewawancarai teman baiknya Simon Shen (沈旭暉) yang adalah mantan professor Universitas Hongkong dan pengelola medsos dan toko buku, membicarakan mengenai isu Hongkong, acara ini dilihat oleh banyak orang Hongkong.

Kemudian pada suatu hari saat media Jepang melakukan kunjungan ke Hongkong, seorang Hongkong yang bertemu di jalan menanyakan, “Kamu wartawan Jepang?” Ketika menjawab “ya”, orang tersebut mengatakan, ada seorang professor yang bermana Kurata, dalam acara online membahas terkait Hongkong, tolong sampaikan terima kasih kepadanya, mendengar begitu membuat saya kaget, ternyata hingga sekaranga ini, orang Hongkong masih dapat menerima informasi dari luar.

Profesor Kurata beranggapan alasan lain mengapa Hongkong tidak menjadi seperti Xinjiang adalah karena Hongkong adalah pusat finansial internasional, begitu menutup jaringan internet maka semua investor asing akan meninggalkan Hongkong, dan akan membahayakan posisi sebagai pusat finansial internasional. Xi Jin-ping tidak ingin kehilangan posisi sebagai pusat finansial internasional, untuk itu tidak berani langsung menutup atau memutuskan jaringan internet internasional.

Selain dapat terkoneksi dengan dunia luar, unsur lain yang dapat membuat Hongkong terhindar dari “pembersihan” adalah “kapitalisme”. Perekonomian Hongkong didominasi oleh swasta, banyak diantaranya kapitalisme Tongkok yang beroperasi di Hongkong, sehingga jika kehilangan ciri kapitalisme maka akan menyebabkan kerugian besar!

Melihat dari kedua unsur ini yaitu “ekonomi” dan “jaringan internet internasional”, maka Hongkong berbeda dengan Tiongkok, meskipun masyarakat Hongkong bungkam tetapi mereka tidak berhenti memperhatikan komunitas nasional.

Komentar

Terbarumore