(Taiwan, ROC) --- Meskipun zaman sudah modern, tetapi masih banyak orang tua yang memegang teguh prinsip "mendahulukan anak laki-laki daripada anak perempuan".
Pengacara di Taiwan, Wang Zhi-de (王至德) menuturkan bahwa ia sering menangani kasus sengketa warisan di mana orang tua mewariskan seluruh harta mereka kepada anak laki-laki. Kemudian, ketika mereka tua dan sakit-sakitan, mereka justru meminta anak perempuan untuk merawat mereka.
"Kalau tidak bersedia merawat orang tua, berarti anak (perempuan) dianggap durhaka," begitulah kira-kira perkataan yang sering didengar oleh pengacara Wang Zhi-de.
Mendengar perkataan seperti demikian, Wang Zhi-de hanya bisa geleng-geleng kepala.
圖/PEXELS
Pengacara Wang Zhi-de menjelaskan, konsep tradisional mengajarkan bahwa harta warisan diberikan kepada anak laki-laki karena merekalah yang akan meneruskan garis keturunan keluarga, dan merawat orang tua mereka di masa tua. Sementara itu, anak perempuan akan menikah dengan keluarga lain, dan pada prinsipnya tidak akan membawa harta keluarga.
Oleh karena itu, anak laki-laki berhak atas harta warisan, sedangkan anak perempuan tidak, karena mereka akan dianggap sebagai orang luar. Sebagai gantinya, anak laki-laki yang mewarisi harta keluarga berkewajiban untuk merawat orang tua mereka. Secara tradisional, konsep di atas diyakini dan dipegang teguh oleh banyak keluarga Tionghoa, termasuk di Taiwan.
Namun, di era kesetaraan gender saat ini, baik anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak waris yang sama. Jika anak perempuan mendapatkan bagian dari harta warisan, tentu saja mereka juga memiliki kewajiban untuk merawat orang tua mereka.
Akan tetapi, beberapa orang tua masih berpegang pada tradisi lama saat membagi harta warisan mereka, yaitu memberikan semuanya kepada anak laki-laki.
Namun, ketika berbicara tentang perawatan di masa tua, para orang tua ini justru menggunakan konsep modern dan menuntut anak perempuan untuk menanggungnya. Hal ini tentu sangat tidak masuk akal.
Banyak netizen yang sependapat dengan pernyataan pengacara Wang Zhi-de.

圖/PEXELS
"Betul sekali! Untuk para perempuan yang tumbuh dalam keluarga dengan tradisi seperti ini, kalian harus berani menolak eksploitasi orang tua! Banyak perempuan yang menjadi korban konsep tradisional ini," tulis salah seorang netizen.
Ada juga netizen yang menyoroti ketidak-adilan dalam pembagian harta warisan. "Anak perempuan juga dapat bagian, kok! Namun, kalau anak perempuan dapat NT$100 ribu, sedangkan anak laki-laki dapat NT$1 juta. Kalau demikian, pembagian waktu merawatnya juga harus proporsional (adil), dong! Kalau begitu, mending pakai mesin absen saja, sekalian."
Beberapa netizen juga menyayangkan bahwa bakti kepada orang tua hanya diukur dari pembagian harta warisan. "Menakutkan sekali jika bakti hanya diukur dari pembagian harta."
Namun, ada juga yang berpendapat, "Kalau tidak diperlakukan dengan baik dan adil, ya, tentu saja harus diukur berdasarkan keuntungannya!"