(Taiwan, ROC) --- Jaringan restoran terkenal Din Tai Fung mengumumkan akan menutup 14 gerai mereka di Tiongkok pada akhir bulan Oktober. Begitu dirilis, berita ini langsung memicu perhatian publik. Dalam sebuah wawancara di televisi pada hari Selasa (27/8), Perdana Menteri Cho Jung-tai, mengatakan bahwa setelah pandemi, situasi di Tiongkok tidak membaik.
Jika para pemimpin Tiongkok tidak melihat hal ini dengan jelas, maka akan sulit bagi ekonomi setempat untuk pulih dalam waktu dekat. Cho Jung-tai juga berharap Tiongkok dapat seperti Taiwan yang memprioritaskan kesejahteraan rakyatnya, tidak saling mengganggu, dan berkembang secara damai.
Din Tai Fung yang adalah jaringan restoran terkenal asal Taiwan, mengumumkan akan menutup 14 gerai mereka di Tiongkok pada akhir bulan Oktober. Perdana Menteri Cho Jung-tai mengatakan bahwa Din Tai Fung memiliki kualitas dan layanan yang baik. Keputusan Din Tai Fung menunjukkan perubahan dalam ekonomi Tiongkok, yang berbeda dari situasi saat Din Tai Fung pertama kali berinvestasi di Tiongkok.
Cho Jung-tai menyatakan bahwa setelah pandemi, kondisi Tiongkok belum juga membaik. Kebijakan negara yang berusaha menyelamatkan ekonomi di satu sisi, tetapi di sisi lain menunjukkan kekuatan militer, merupakan dua jalur yang sangat kontradiktif.
Cho Jung-tai mengatakan bahwa jika para pemimpin Tiongkok tidak melihat hal ini dengan jelas, maka akan sulit bagi ekonomi Negeri Tirai Bambu untuk pulih dalam waktu dekat.
PM Cho mengatakan, "Jika para pemimpin Tiongkok tidak melihat hal ini dengan jelas dan terus bertindak dengan cara ini, maka akan sulit untuk mengharapkan ekonomi dapat pulih dalam waktu dekat, bahkan Zhongnanhai pun mengakuinya. Saat ini, perang dagang dan persaingan teknologi antara Tiongkok dengan Amerika Serikat masih berlangsung. Ada yang melihat dari sudut pandang Tiongkok, ada pula yang melihat dari sudut pandang Amerika Serikat. Jika persaingan dagang berubah menjadi persaingan yang tidak sehat, maka hal itu tidak akan baik bagi dunia."
Cho Jung-tai berharap bahwa Tiongkok dapat seperti Taiwan yang akan memprioritaskan kesejahteraan rakyatnya dan mengesampingkan sementara ekspansi militernya. Ia menekankan bahwa tidak ada yang ingin bersaing dengan Tiongkok.
PM Cho berharap kedua sisi Selat Taiwan dapat saling menghormati kedaulatan masing-masing, tidak saling mengganggu, dan bersama membangun perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran.
Cho Jung-tai juga menyatakan bahwa salah satu keputusan dari Dewan Pembangunan Ekonomi Yuan Eksekutif adalah melakukan investasi besar di Taiwan. Pada tahap awal, akan dialokasikan dana sebesar NT$3 hingga NT$4 triliun untuk diinvestasikan di berbagai industri di Taiwan.
Dana tersebut dapat digunakan untuk membangun perumahan sosial atau diinvestasikan di industri-industri unggulan Taiwan, mendorong inovasi teknologi, dan meningkatkan transformasi industri.