(Taiwan, ROC) --- Taiwan, yang terletak di perbatasan lempeng tektonik, sering dilanda gempa bumi. Namun, tahukah Anda bahwa gempa bumi ternyata memiliki jenis "cepat" dan "lambat"?
Ditjen Klimtologi Sentral (CWA) menjelaskan bahwa gempa bumi "lambat" di Taiwan umumnya terjadi di bawah bagian selatan Barisan Pegunungan Sentral (中央山脈), dengan titik teraktif berada di selatan Yuhsan.
Fenomena ini tergolong langka karena hanya terjadi di beberapa wilayah di dunia, yaitu di zona pembentukan gunung "non-vulkanik".
Meskipun namanya gempa "lambat", tetapi energi yang dilepaskan tidak bisa diremehkan. Jika diakumulasikan, energi tersebut akan setara dengan gempa berkekuatan 4SR hingga 7SR!

圖/PEXELS
Melalui laman Facebook, pihak CWA menjelaskan bahwa gempa lambat merupakan sumber getaran yang tersembunyi di antara gelombang seismik lainnya. Jika gempa bumi pada umumnya melepaskan energi dalam hitungan detik hingga ratusan detik (dengan pergerakan lempeng mencapai puluhan sentimeter per hari), maka gempa lambat justru melepaskan energi secara perlahan dalam waktu beberapa jam hingga beberapa minggu (dengan pergerakan lempeng hanya beberapa sentimeter per hari).
Mengapa gempa lambat sulit dideteksi? Salah satunya karena lokasinya yang lebih dalam dari gempa bumi pada umumnya. Jika gempa bumi umumnya terjadi di kedalaman kurang dari 30 kilometer di zona "brittle", gempa lambat justru terjadi di kedalaman sekitar 50 kilometer, yaitu zona transisi antara deformasi "brittle" dan "ductile".
Meskipun terkesan tidak berbahaya, energi kumulatif yang dilepaskan oleh gempa bumi lambat setara dengan gempa berkekuatan 4SR hingga 7SR.
Melalui laman Facebook, pihak CWA menjelaskan bahwa gempa lambat merupakan sumber getaran yang tersembunyi di antara gelombang seismik lainnya. 圖/CWA
CWA mencatat adanya korelasi spatiotemporal antara gempa bumi lambat di Taiwan dengan aktivitas seismik di wilayah sekitarnya. Pasca gempa bumi berkekuatan 6,4SR yang mengguncang Jiasian pada tahun 2010, tercatat peningkatan signifikan dalam aktivitas gempa bumi lambat dalam kurun waktu kurang dari seminggu.
Selain itu, penelitian dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa gempa bumi lambat berpotensi memicu percepatan waktu terjadinya gempa bumi besar. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun terkesan lemah, tetapi gempa bumi lambat memiliki keterkaitan yang signifikan dengan gempa bumi konvensional.