(Taiwan, ROC) – Radio Taiwan Internasional (Rti) diundang untuk menghadiri konferensi bertajuk “Ruang Demokrasi Asia yang Semakin Sempit: Perlawanan dan Tanggapan” ke-9, yang diselenggarakan oleh Asia Center di Bangkok, Thailand. Chairperson Rti, Cheryl Lai (賴秀如) memimpin diskusi forum bertajuk “Melampaui Batas dan Etnis: Memperkuat Suara dan Keberagaman”, yang membahas bagaimana melampaui batas-batas negara, bahasa, dan etnis untuk memperkuat keberagaman suara serta mempromosikan keragaman dan inklusivitas dalam media.
Bagaimana suara yang beragam dapat didengar menjadi fokus utama dalam forum ini. Rti secara khusus mengundang sejumlah pakar global dan pekerja media ternama untuk berpartisipasi, termasuk Filip Noubel, selaku Pemimpin Redaksi Global Voices; Tony Thamsir, selaku pembawa acara program Bahasa Indonesia di Rti; Mulihay Talus, selaku pembawa acara radio suku penduduk asli Alian. Forum ini menyoroti cara-cara untuk menghancurkan batas-batas negara dan etnis, memperluas suara komunitas terpinggirkan melalui kekuatan media, serta mengingatkan pentingnya narasi yang beragam dan ekspresi budaya dalam ruang sipil Asia yang semakin terbatas. Dr. Martin Petlach dari Universitas Mendel, Ceko, juga turut diundang untuk berbagi pengamatannya akan peran kepercayaan politik dalam pemilihan dan demokrasi di Asia Tenggara.
Global Voices: Keberagaman Bahasa dan Cerita
Filip Noubel mendalami peran penting keragaman bahasa dan ekspresi budaya dalam penyebaran media global. Dirinya memperkenalkan model operasi Global Voices, sebuah platform yang menyediakan layanan penerjemahan dan narasi dalam lebih dari 30 bahasa, berkomitmen untuk menjaga keaslian budaya dan bahasa lokal, serta menampilkan beragam cerita dari seluruh dunia melalui kolaborasi lintas negara.
Noubel menekankan bahwa pertanyaan inti dari Global Voices adalah “Dunia sedang berbicara, apakah Anda mendengarkannya?” dan menyoroti bahwa lingkungan budaya multibahasa global sedang berubah dengan cepat, di mana inovasi bahasa sering kali berpusat pada bahasa inggris, sementara ekspresi asli dari bahasa lokal sering diabaikan.
Dirinya memberikan contoh bahwa dalam lingkungan multibahasa, menjaga keaslian bahasa asli sangatlah penting, karena jika terjadi distorsi dalam proses penerjemahan, maka makna budaya dapat hilang. Oleh karena itu, Noubel mengajak media untuk lebih menekankan keberadaan bahasa-bahasa tersebut dalam narasi mereka dan memastikan melalui penerjemahan lintas budaya bahwa cerita dalam berbagai bahasa dapat didengar di tingkat global.
Dalam peliputan media saat ini, sering kali ada satu pertanyaan penting yang diabaikan, yang langsung disorot oleh Filip Noubel, “Siapa yang hilang dalam cerita?”. Dalam lingkungan media yang semakin terglobalisasi, cerita dari bahasa atau kelompok tertentu sering kali terpinggirkan atau bahkan tidak muncul sama sekali. Hal ini bukan hanya merugikan kekayaan budaya, tetapi juga memperburuk ketidakadilan sosial.
Tony Thamsir: Jembatan antara Indonesia dan Taiwan
Tony Thamsir, selaku pembawa acara program Bahasa Indonesia di Rti berbagi pengalaman pribadinya dalam melintasi batas budaya dan etnis antara Indonesia dan Taiwan. Tony Thamsir yang lahir di Indonesia, sering mengalami diskriminasi ras di sana lantaran penampilannya yang mirip dengan etnis Tionghoa. Namun, ketika dirinya datang ke Taiwan untuk melanjutkan studi, dia justru dianggap “tidak cukup Tionghoa” karena identitasnya sebagai orang Indonesia. Latar belakang identitas ganda ini membuatnya menghadapi banyak tantangan dalam beradaptasi dengan lintas budaya.
Tony mempelajari ilmu politik dan bahasa Mandarin di Universitas Chengchi (NCCU), kemudian bekerja di Pemerintah Kota Taipei, yang memberikan konsultasi dan pelayanan bagi pekerja migran Indonesia di Taiwan. Dia menceritakan bahwa pabrik ayahnya dibakar saat kerusuhan Mei 1998 tengah berlangsung di Indonesia, merupakan sebuah pengalaman yang membuatnya merasakan secara mendalam akan luka yang ditimbulkan oleh konflik etnis.
Meskipun begitu, dirinya tidak menyerah, melainkan memilih untuk menjadi jembatan pertukaran budaya antara Indonesia dan Taiwan. Pada tahun 2006, Tony bergabung dengan program bahasa Indonesia di Rti. Seiring dengan meningkatnya jumlah pekerja migran, pelajar, dan imigran Indonesia di Taiwan, konten program dan pengalamannya menjadi penghubung penting antara budaya kedua negara. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pemahamannya yang mendalam tentang masalah sosial di kedua negara, dirinya berharap dapat membantu lebih banyak pekerja migran, imigran, atau pelajar Indonesia di Taiwan yang menghadapi kesulitan dalam pekerjaan dan kehidupan, meskipun suara mereka sering kali tidak terdengar.
Mulihay Talus: Sejarah dan Pewarisan Bahasa Suku Sakizaya
Mulihay Talus, pembawa acara dari Radio Alian mengenakan pakaian tradisional Sakizaya saat memberikan paparan mendalam tentang budaya dan sejarah suku Sakizaya. Mulihay menyebutkan bahwa Sakizaya adalah suku penduduk asli Taiwan ke-13, yang diakui secara resmi. Namun, selama periode Dinasti Qing, suku Sakizaya mengalami “Insiden Karewan” yang menyebabkan banyak anggota suku tewas dan terpaksa berpindah, serta mengakibatkan budaya dan bahasa mereka menjadi tersembunyi di bawah pengaruh suku Amis selama lebih dari satu abad.
Mulihat menunjukkan, warna-warna pada pakaian tradisional Sakizaya memiliki makna historis yang mendalam. Misalnya, merah melambangkan darah yang ditinggalkan oleh leluhur suku yang telah meninggal, biru melambangkan hubungan dengan suku Amis dan pentingnya tidak melupakan akar budaya, hijau mewakili bambu berduri yang melindungi komunitas, dan putih melambangkan air mata suku selama masa-masa penderitaan.
Dr. Martin Petlach: “Apakah Anda Percaya kepada Pemerintah?”
Dr. Martin Petlach memfokuskan penelitiannya pada kepercayaan politik dan tingkat partisipasi pemilih di Asia Tenggara. Dia memulai presentasinya dengan pertanyaan, "Apakah kalian percaya pada pemerintah kalian?" yang menarik perhatian para peserta. Beberapa orang terlihat saling tersenyum, sementara yang lain menyatakan bahwa mereka memiliki pandangan negatif. Chairperson Rti Cheryl Lai (賴秀如) menambahkan bahwa tanpa kepercayaan pada pemerintah, diskusi tentang budaya dan isu lintas batas yang telah dibahas sebelumnya mungkin tidak berarti banyak.
Penelitian Martin mengevaluasi tingkat kepercayaan masyarakat Asia Tenggara terhadap berbagai institusi politik, seperti pemerintah, parlemen, militer, dan media. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam tingkat kepercayaan antara negara-negara. Misalnya, Vietnam memiliki tingkat kepercayaan terhadap institusi politik lebih dari 90%, sementara di Malaysia dan Thailand, tingkat kepercayaannya lebih rendah, yakni hanya sekitar 40%.