(Taiwan, ROC) Kemenlu dan Prospect Foundation menggelar “Ketagalan Forum – Indo Pasific Security Dialoque” pada hari Rabu ini (21/8) di Hotel Grand Hyatt Taipei, Presiden Lai Ching-te memberikan sambutan pembukaan.
Presiden Lai Ching-te mengatakan, beberapa tahun yang lalu, ekspansi otoritarianisme menjadi semakin agresif dan menjadi tantangan global, selain perang Rusia -Ukraina, Korea Utara mengancam perdamaian dan stabilitas di Asia Timur Laut, dan perang juga terjadi di Timur Tengah. Daratan Tiongkok tidak hanya melakukan latihan militer di Selat Taiwan, tetapi juga melakukan aksi latihan militer gabungan angkatan laut dan udara dengan Rusia untuk mengintimidasi negara-negara tetangga secara militer dan merusak perdamaian dan stabilitas kawasan. Selain itu, Daratan Tiongkok telah mempersenjatai perdagangan dan melakukan operasi politik untuk menekan dan mengintimidasi negara lain.
Presiden Lai Ching-te mengatakan, RRT melancarkan perang hibrida, melalui serangan siber, perang kognitif, berita hoaks, intervensi politik dan lainnya menjadi cara untuk mempenetrasi berbagai negara, dan mencoba memengaruhi pemilu Taiwan dan negara lainnya, pihak yang menjadi sasaran tidak hanya terbatas untuk Taiwan saja, melainkan mencoba untuk mengubah tatanan internasional, maka dari itu, negara-negara demokrasi semestinya kompak untuk melawan ekspansi otoritarianisme. Presiden Lai Ching-te, “Semuanya sangat memahami, sasaran perluasan otoritarianisme RRT tidak terbatas Taiwan saja, negara yang menjadi korban tekanan ekonomi dan perdagangan RRT, tidak hanya Taiwan saja, RRT mencoba mengubah tatanan internasional. Negara-negara demokratis kawasan regional dan seluruh dunia, perlu kekompakkan, mengadopsi tindakan yang lebih kongkrit.”
Presiden juga menjelaskan pihaknya akan aktif mempromosikan “4 Pilar Perdamaian”, termasuk terus mendorong reformasi pertahanan nasional, meningkatkan anggaran pertahanan nasional, pengadaan senjata dan peralatan melalui gabungan kemandirian pertahanan nasional dan pengadaan alutsista, membangun mekanisme promosi teknologi baru, dan pertahanan nasional yang tangguh untuk meningkatkan tekad pertahanan nasional mandiri yang tangguh.
Pada sisi keamanan struktur ekonomi, Presiden Lai Ching-te mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini, Taiwan memperluas pemetaan global, mengurangi ketergantungannya kepada RRT secara signifikan.
Persentase investasi asing RRT terhadap Taiwan menurun dari 83,8% pada tahun 2010 menjadi 11,4% pada tahun lalu, mencatat rekor terendah.
Persentase ekspor asing RRT terhadap Taiwan juga menurun dari 43,1% pada paruh awal tahun 2010 menjadi 31,2% pada paruh awal tahun ini, menjadi angka terendah baru untuk periode yang sama dalam 22 tahun terakhir. Taiwan juga berharap melalui perjanjian kerja sama perdagangan baru, mencakup upaya partisipasi kemitraan CPTPP, bersama negara-negara kawasan meningkatkan perekonomian yang tangguh.
Presiden Lai mengemukakan, Taiwan akan mempromosikan nilai diplomasi pada berbagai kawasan, memperdalam kerja sama dengan negara-negara demokratis, dan berlanjut menciptakan rantai pasokan “chip demokrasi” yang berkelanjutan. Saat bersamaan, meningkatkan kerja sama pertukaran pada sektor keamanan nasional, bersama mengembangkan kekuatan penghadang, menghindari terjadinya perang dan mengandalkan kekuatan nyata untuk menggapai target perdamaian.
Presiden Lai menekankan, Taiwan bagian dari komunitas internasional yang bertanggung jawab, tidak rendah hati dan tidak sombong, mempertahankan status quo Selat Taiwan, bersedia untuk menjalankan kerja sama pertukaran dengan RRT yang berlandaskan kesetaraan dan bermartabat, untuk mencapai stabilitas perdamaian Selat Taiwan. Taiwan bertekad untuk mempromosikan stabilitas dan perdamaian dunia, mengembangkan kekuatan kunci kemakmuran, juga berharap bersama negara-negara demokratis membuka “payung perlindungan demokrasi”, bersama menghadapi tantangan otoritarianisme dan menjaga nilai-nilai bersama.