(Taiwan, ROC) --- Presiden Taiwan, Lai Ching-te (賴清德), tengah gencar mendorong pembentukan dana obat kanker senilai miliaran NT$. Namun, pendanaan menjadi batu sandungan utama. Pemerintah telah mengesampingkan opsi "pajak kesehatan", seperti cukai alkohol dan gula.
Pada Rabu hari ini (21/8), kelompok masyarakat sipil menyatakan dukungan mereka terhadap skema pendanaan apa pun, asalkan sumbernya stabil dan tidak menimbulkan masalah baru. Di sisi lain, kalangan medis khawatir bahwa dana obat kanker ini bertujuan untuk memasukkan obat-obatan baru ke dalam skema Asuransi Kesehatan Nasional (NHI), yang pada akhirnya akan membebani sumber daya NHI dan memunculkan masalah defisit anggaran NHI.
"Komite Promosi Kesehatan Taiwan" yang dinaungi oleh Istana Kepresidenan akan mengadakan pertemuan perdana pada tanggal 22 Agustus 2024, untuk membahas berbagai isu, termasuk perawatan kesehatan holistik dan pendanaan NHI.
Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah sumber pendanaan untuk dana obat kanker senilai miliaran NT$ ini. Kalangan medis dan kelompok masyarakat sipil telah mengusulkan pengenaan pajak kesehatan pada produk-produk seperti alkohol dan gula untuk mendanai program ini.
Namun, Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰), menyatakan bahwa pemerintah tidak akan mempertimbangkan pengenaan bea cukai alkohol atau gula, dan akan mencari sumber pendanaan lain yang lebih sesuai.
Menanggapi hal ini, Hung Tzu-jen (洪子仁), Ketua Asosiasi Manajemen Medis Taiwan sekaligus Wakil Direktur Rumah Sakit Memorial Shin Kong, dalam sebuah wawancara menjelaskan bahwa rencana pemerintah saat ini adalah mengalokasikan dana secara bertahap melalui anggaran tahunan hingga mencapai target miliaran NT$.
Meskipun demikian, ia berpendapat bahwa sumber pendanaan yang beragam tentu akan membuat dana obat kanker ini lebih stabil. Ia mencontohkan konsep dan praktik pajak kesehatan yang diterapkan di negara-negara lain, dan menyarankan agar Taiwan dapat mengadopsi pendekatan serupa.
Namun, ia menekankan bahwa hal ini perlu diiringi dengan dialog bersama masyarakat untuk mencapai konsensus sosial, dan juga bergantung pada kesiapan pemerintah dalam mengimplementasikannya.
Hung Tzu-jen mencatat bahwa dana obat kanker senilai miliaran NT$ ini dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap obat kanker baru. Namun, jika percepatan masuknya obat kanker baru ke dalam NHI tidak diiringi dengan kecukupan anggaran, maka hal ini akan membebani sumber daya NHI.
Hung Tzu-jen mengatakan, "Saat ini, evaluasi dilakukan melalui dana tersebut. Namun, begitu obat masuk dalam skema NHI, maka pembiayaannya akan menggunakan anggaran NHI. Mempercepat proses ini tentu akan meningkatkan beban biaya pada sumber daya NHI. Oleh karena itu, kita perlu memastikan kecukupan anggaran NHI, baik dari segi laju pertumbuhan maupun jumlah totalnya."
Sementara itu, Ketua Taiwan Alliance of Patients' Organizations, Wu Hong-lai (吳鴻來), dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa di masa lalu, cukai rokok digunakan untuk mendanai NHI. Namun, pendapatan dari cukai rokok terus menurun setiap tahunnya.
Oleh karena itu, ia berharap sumber pendanaan untuk dana obat kanker ini dapat dijamin kestabilannya dan tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Ia menegaskan dukungannya terhadap segala bentuk sumber pendanaan, asalkan stabil dan tidak menimbulkan masalah baru.