(Taiwan, ROC) --- Salah seorang dokter spesialis di Taiwan, Dokter Ooi Hean (黃軒), mengungkapkan bahwa kanker pada pria ternyata berkaitan dengan gengsi. Ia menjelaskan bahwa pria memiliki risiko kanker yang lebih tinggi dibandingkan wanita karena empat faktor utama.
Salah satunya adalah karena demi menjaga harga diri, pria seringkali enggan berobat atau menjalani pemeriksaan kesehatan. Akibatnya, pengobatan menjadi terlambat dan risiko kematian pun meningkat.
Melalui unggahan di laman Facebook-nya, Dokter Ooi Hean menyampaikan bahwa angka dan risiko kematian akibat kanker di Taiwan terus meningkat. Kanker paru-paru masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dalam negeri.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi bahwa hingga tahun 2025, jumlah kasus kanker secara global akan menembus angka 35 juta kasus. Angka ini melonjak 77% dari 20 juta kasus di tahun 2022, yang memperlihatkan laju pertumbuhan yang mengkhawatirkan.

圖/PEXELS
4 Faktor Penyebab Tingginya Angka Kejadian Kanker pada Pria
1. Perbedaan Gaya Hidup
Pria cenderung memiliki gaya hidup yang kurang sehat dibandingkan wanita. Konsumsi rokok dan alkohol, serta pola makan yang buruk, merupakan faktor risiko utama berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru, hati, dan esofagus.
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang lebih umum di kalangan pria berkontribusi terhadap tingginya angka kanker pada kelompok ini.
2. Paparan di Tempat Kerja
Proporsi pria yang bekerja di sektor industri dengan risiko paparan karsinogen lebih besar dibandingkan wanita. Industri konstruksi, kimia, dan pertambangan merupakan contoh sektor dengan potensi paparan tinggi terhadap zat-zat karsinogenik, seperti asbes, benzena, dan bahan kimia berbahaya lainnya. Paparan jangka panjang terhadap zat-zat ini juga dapat meningkatkan risiko kanker secara signifikan.
圖/PEXELS
3. Perbedaan Biologis
Perbedaan biologis antara pria dan wanita, seperti profil hormonal, susunan genetik, dan faktor fisiologis lainnya, dapat memengaruhi kerentanan terhadap jenis kanker tertentu. Kanker prostat, misalnya, yang hanya terjadi pada pria.
Kanker paru-paru juga lebih umum terjadi pada pria. Perbedaan biologis ini berperan dalam kemungkinan angka kejadian kanker antara pria dan wanita.
4. Pemanfaatan Akses dan Utilisasi Layanan Kesehatan
Pria cenderung kurang proaktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan mencari pertolongan medis dibandingkan wanita. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan akibat rendahnya kesadaran dan partisipasi dalam program deteksi dini kanker, berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian dan mortalitas kanker pada pria. Diperkirakan bahwa pada tahun 2025, kanker paru-paru akan menjadi penyebab kematian utama pada pria.