(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 14 Agustus 2024, bertepatan dengan "Hari Peringatan Jugun Ianfu Internasional", Taipei Women's Rescue Foundation (TWRF) mengadakan konferensi pers. Mereka mengumumkan hasil survei tentang dampak perang, yang menyoroti kurangnya perhatian terhadap penderitaan kaum perempuan selama masa perang.
Yayasan tersebut mengajukan empat tuntutan, termasuk mencatat peristiwa Jugun Ianfu dalam sejarah nasional, menyertakannya ke dalam kurikulum pendidikan nasional, dan mendirikan Museum Nasional Hak Asasi Perempuan, tujuannya adalah agar sejarah ini mendapatkan perhatian dan peringatan yang layak.
Hampir 80 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, mantan Jugun Ianfu asal Taiwan terakhir telah meninggal dunia pada tahun 2023. Namun, para saksi sejarah ini masih belum mendapatkan keadilan hukum dan permintaan maaf.
Pada Hari Peringatan Jugun Ianfu Internasional, TWRF mengadakan konferensi pers di AMA Museum. Acara ini dihadiri oleh sosok pengacara Yu Mei-nu (尤美女), yang berpartisipasi dalam "Pengadilan Kejahatan Perang Perempuan Internasional" di Tokyo pada tahun 2000, serta organisasi masyarakat sipil yang peduli terhadap perempuan dan hak asasi manusia.
Mereka bersama-sama mengenang para korban dan mengumumkan hasil survei perihal "Dampak Perang terhadap Masyarakat".
CEO TWRF, Tu Ying-chiu (杜瑛秋), menunjukkan bahwa survei online yang dilakukan dari 23 Juli hingga 12 Agustus 2024 tersebut menunjukkan bahwa dampak perang terhadap masyarakat paling besar adalah trauma psikologis, yakni mencapai 47%.
Selanjutnya adalah keamanan pribadi, kehidupan sehari-hari, dan keuangan finansial. Hanya sebagian kecil orang yang menyebutkan kekerasan terhadap perempuan selama perang. Realitas brutal perang Palestina dan perang Rusia-Ukraina sekali lagi mengingatkan kita bahwa perempuan sangat rentan terhadap kekerasan dalam perang.
Dalam konflik ini, perempuan tidak hanya menghadapi kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.
Tu Ying-chiu menekankan bahwa penderitaan perempuan selama perang tidak boleh diabaikan. Masyarakat harus lebih memperhatikan dan berupaya mencegah terjadinya kekerasan semacam itu. Oleh karena itu, TWRF mengajukan empat tuntutan.
Pertama, mereka meminta agar sejarah nasional dan buku-buku sejarah mencatat peristiwa Jugun Ianfu Taiwan. Kedua, Kementerian Pendidikan harus memasukkan sejarah Jugun Ianfu ke dalam kurikulum pendidikan nasional tahun 2019
Tu Ying-chiu berkata, "Kami berharap dapat memasukkannya ke dalam kurikulum, bersama dengan peristiwa hak asasi manusia lainnya, misal 228, karena setiap siswa berhak untuk mengetahui kebenaran sejarah dan menerima pendidikan tentang hak asasi perempuan. Setiap tahun, banyak siswa mengunjungi (museum), dan saya selalu bertanya kepada mereka, 'Apakah kamu pernah membaca tentang sejarah ini di buku teks?' Beberapa berkata pernah, beberapa berkata tidak pernah. Di universitas, hampir tidak ada. Ini benar-benar perlu dipromosikan."
Selain itu, TWRF mengimbau pemerintah untuk mendirikan Museum Nasional Hak Asasi Perempuan untuk melestarikan artefak terkait dan mempromosikan pendidikan hak asasi manusia.
Seluruh masyarakat juga harus memperhatikan isu hak asasi perempuan terkait kerentanan perempuan terhadap kekerasan seksual, mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, dan mencegah terulangnya tragedi sejarah.