(Taiwan, ROC) --- Seorang pekerja migran perempuan berusia 29 tahun, kita sebut saja namanya Bunga (nama samaran) diperkerjakan di Singapura untuk merawat sepasang saudara kandung penyandang disabilitas.
Pada bulan Juli dan Agustus 2022, ia justru melakukan pelecehan seksual terhadap majikan laki-lakinya sambil melakukan panggilan video dengan pacarnya. Kejadian ini terungkap setelah pacar Bunga, dalam upaya memaksanya untuk memutuskan kontrak lebih awal dan kembali ke negaranya, mengirimkan video tidak senonoh tersebut kepada keluarga majikan.
Pengadilan setempat baru-baru ini menyidangkan kasus tersebut dan menjatuhkan hukuman 8 tahun 10 bulan penjara kepada Bunga.

示意圖/PEXELS
Menurut laporan media Singapura, 8world新聞網, Bunga mulai bekerja di Singapura pada Maret 2021 untuk merawat kedua saudara kandung tersebut. Sang kakak memiliki disabilitas intelektual, sementara adik perempuannya menggunakan kursi roda.
Namun, pada bulan Juli dan Agustus 2022, Bunga melakukan pelecehan seksual terhadap majikan laki-lakinya sembari melakukan video call dengan pacarnya. Pacar Bunga menyaksikan seluruh kejadian tersebut melalui panggilan video.
Setelah kejadian tersebut, Bunga mengancam majikannya untuk tidak memberi tahu siapa pun, jika tidak, ia tidak akan lagi membantu merawat anak-anaknya.
Proses pelecehan seksual Bunga terhadap majikan prianya direkam oleh pacarnya. Dan pada suatu waktu, pacar Bunga ingin dia mengakhiri kontraknya lebih awal dan kembali ke negara asalnya, tetapi permintaan itu tidak diiyakan oleh Bunga.

示意圖/PEXELS
Pada bulan Januari 2023, pacarnya mengirimkan video tidak senonoh bersangkutan kepada keluarga majikan dan mengancam akan menyebarkannya jika mereka tidak berkompromi.
Keluarga majikan segera menanyakan hal ini, dan Bunga akhirnya mengakui bahwa wanita dalam video itu adalah dirinya. Keluarga majikan sangat marah dan melaporkannya ke polisi.
Bunga mengaku bahwa dia melancarkan tindakan tersebut atas instruksi pacarnya. Kejahatan pertamanya sebenarnya terjadi pada Januari atau Februari 2022, dan dia melakukannya lagi pada Juli atau Agustus di tahun yang sama, karena diancam oleh pacarnya.
Sang pacar juga diketahui melakukan ancaman yang sama terhadap Bunga. Bunga pun menangis dan mengatakan bahwa dia memiliki tiga adik yang masih kecil dan seorang anak, yang masih membutuhkan uangnya untuk menghidupi keluarga. Ia kemudian memohon keringanan hukuman dari hakim.
Pada tanggal 7 Agustus 2024, pengadilan setempat mengadili kasus ini. Dan hakim menganggap kejahatan Bunga sangat serius. Jika dia bukan wanita, dia juga akan dijatuhi hukuman cambuk.
Pada akhirnya, Bunga dijatuhi hukuman penjara 8 tahun 10 bulan.