(Taiwan, ROC) --- Serangan udara Israel di Beirut, Lebanon, yang menewaskan komandan militer senior Hizbullah, Fuad Shukr, telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Kekhawatiran akan pecahnya perang besar-besaran antara Israel dengan Hizbullah, serta meluasnya konflik di kawasan tersebut, telah mendorong Inggris dan Amerika Serikat untuk mendesak warganya di Lebanon agar segera pergi meninggalkan negara tersebut.
Dilansir dari berbagai media dunia, seperti AFP dan BBC, Hizbullah menembakkan puluhan roket ke kota-kota di Israel utara pada Minggu dini hari (4/8). Sebagian besar roket berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, dan sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa.
Namun, di tengah kekhawatiran akan eskalasi situasi, Duta Besar AS untuk Lebanon kembali mengeluarkan seruan, mendesak semua warga negara AS untuk segera meninggalkan Lebanon dengan penerbangan apa pun yang tersedia.
Hizbullah menembakkan puluhan roket ke kota-kota di Israel utara pada Minggu dini hari (4/8). Sebagian besar roket berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, dan sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa. 圖/REUTERS
Pernyataan Kedutaan Besar AS mencatat bahwa meskipun ada beberapa penangguhan rute dan pembatalan penerbangan, tetapi opsi transportasi komersial untuk meninggalkan Lebanon tetap tersedia.
Kedubes AS juga mendorong warganya untuk memesan tiket dengan jalur penerbangan apa pun yang tersedia, meskipun itu bukan rute direct flight.
Pihak berwenang Inggris juga mengeluarkan seruan serupa. Dalam sebuah pernyataan, Kantor Luar Negeri Inggris mengatakan bahwa warga negara Inggris harus segera meninggalkan negara Timur Tengah tersebut.
Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, mengatakan, "Mengingat situasi konflik yang dapat memburuk dengan cepat, pesan kami kepada warga negara Inggris di Lebanon sudah jelas, yaitu untuk pergi sekarang, selagi opsi penerbangan komersial masih tersedia. Kami meningkatkan upaya konsuler kami di Lebanon."