(Taiwan, ROC) --- Tragedi memilukan yang menewaskan tiga orang di Distrik Sanchong, Kota New Taipei, terungkap setelah seorang suami bermarga Liao (廖姓) tega membunuh istrinya yang bermarga Liu (劉姓) dengan menggunakan pisau.
Liao kemudian membawa jasad sang istri dan bayi mereka yang berusia enam bulan ke Jembatan Ma Cao di Gunung Yangmingshan. Di sana, ia diduga lebih dulu mencabut nyawa bayinya sebelum akhirnya bunuh diri.
Foto-foto kebahagiaan pasangan ini di masa lalu pun terkuak, termasuk unggahan-unggahan sang istri di Facebook yang berisi tentang kehidupan dan pandangannya tentang cinta.
Ia pernah mengunggah foto mesra mereka dengan tulisan, "Cintailah seseorang yang selalu memperhatikanmu."
Pada Senin sore sebelum kejadian (8/7), sang istri bahkan sempat mencurahkan isi hatinya tentang sulitnya mengasuh anak dengan menulis, "Saking sibuknya, aku sampai lupa caranya bernapas."
Tak disangka, tragedi nahas justru menimpa keluarga kecil ini keesokan harinya, Selasa (9/7).

Tragedi tiga kematian di Sanchong yang mengejutkan banyak pihak. 圖/EBC NEWS
Nenek dari pihak ibu yang terpukul atas kepergian cucu kecilnya hanya bisa menangis histeris di rumah duka. Ia begitu terpukul hingga tak mampu berdiri tegak dan harus dibantu saat berjalan. Kedua belah pihak keluarga pun masih tak percaya dengan tragedi yang menimpa keluarga yang dulunya tampak bahagia ini.
Diketahui bahwa pasangan suami istri ini telah menikah selama setahun lebih. Sang istri memutuskan berhenti bekerja setelah hamil karena mengalami morning sickness yang parah, sementara suaminya juga dipecat dari pekerjaannya. Keduanya pun menjadi pengangguran dan hanya mengandalkan bantuan dari keluarga.
Liao yang berusia 42 tahun itu diketahui telah lama tinggal di Tiongkok dan bekerja di bidang penjualan industri teknologi selama bertahun-tahun. Ia pernah menikah di Tiongkok, tetapi kemudian bercerai dan kembali ke Taiwan.
Di Taiwan, ia bekerja sebagai staf penjualan di sebuah perusahaan teknologi di Nangang. Sementara itu, sang istri merupakan seorang lulusan Amerika Serikat yang kembali ke Taiwan karena pandemi. Ia bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan teknologi.

Sepasang suami istri sering terlihat sangat mesra dalam keseharian mereka, membuat banyak tidak percaya akan tragedi yang menimpa mereka. 圖/EBC NEWS
Pasangan ini tinggal bersama keluarga dari pihak istri dan sering terlihat berjalan-jalan bersama anak mereka. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa tidak ada tanda-tanda masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka, dan mereka tidak mengetahui penyebab pasti pertikaian yang berujung maut ini.
Sehari sebelum kejadian, sang istri sempat membagikan berita tentang pengasuhan anak di Facebook. Ia menuliskan, "Seharusnya, setiap pasangan membutuhkan cuti melahirkan setidaknya selama 480 hari. Akhir-akhir ini aku begitu sibuk sampai lupa caranya bernapas. Sekarang aku baru tahu betapa sulitnya mengurus anak."
Sang istri juga pernah mengunggah pertanyaan tentang pekerjaan, "Karena si kecil sangat lengket denganku, adakah yang bisa merekomendasikan pekerjaan yang cocok untukku? Pekerjaan yang memungkinkanku untuk bekerja sambil mengasuh anak."

Pada tanggal 6 Juli lalu, sang istri sempat mengunggah postingan di akun Facebook pribadinya, memperlihatkan kemesraan keluarga kecil mereka. 圖/EBC NEWS
Sang istri juga kerap membagikan foto kebersamaan dengan suaminya di Facebook, disertai keterangan romantis.
"Kebahagiaan adalah saat dua orang yang dimabuk cinta bersama, dengan obrolan tanpa henti. Cintailah seseorang yang selalu memperhatikanmu. Cinta terbaik bukanlah memberi, melainkan memahami, mendukung, dan memaafkan. Kamu mengerti perasaanku, aku pun tahu kesulitanmu. Kamu menghargai perjuanganku, dan aku pun memahami kerja kerasmu," tulis sang istri melalui akun Facebooknya.
Namun, tragisnya, sang istri justru menjadi korban pembunuhan keji suaminya, merenggut nyawa mereka dan anak mereka, sehingga satu keluarga beranggotakan tiga orang tersebut meninggal dunia.